Selingkuh Penuh Rangsangan Bagian 1


Meskipun awalnya merasa cemas, akhirnya Mila dapat rileks dan menikmatinya. Dia dan kekasihnya, Aldi sedang ber-double date dengan teman lamanya Bimo dan tunangannya, Sarah.

"So gimana ceritanya kamu dan Bimo ketemu?" tanya Sarah pada Mila.

"Waktu di kampus dulu. Kita punya beberapa teman yang sama dan sampai akhirnya kita bekerja di tempat yang sama setelah lulus. Kita terus berteman sejak itu."

"Lalu apa kalian berdua pernah kencan atau mungkin pernah punya hubungan khusus yang lain?" Sarah tersenyum, tapi Mila perhatikan Sarah memegangi lengan Bimo dengan posesif.

"Oh nggak pernah," Mila tertawa. "Kami hanya berteman saja, nggak lebih. Dan kalian sekarang sudah tunangan. Aku turut bahagia." Mila berkata jujur. Dia sungguh suka dengan Sarah.

"Rasanya aku sudah sangat mengenalmu," lanjut Mila. "Bimo selalu cerita tentangmu, bahkan sejak dia pertama kali ketemu kamu." dia menyikut Bimo menggodanya. "Aku tak percaya kalau kalian sudah jalan 2 tahun lebih dan baru sekarang kamu kenalkan dengan kami."

"Aku tahu, aku tahu," Bimo mengaku dengan canggung. "Tapi Sarah menetap di kota lain, sulit mendapat waktu yang tepat."

"Apa kamu akan pindah ke sini, Sarah?" tanya Aldi, masuk ke percakapan. "Atau Bimo yang akan pindah ke sana?"

"Tergantung di mana nanti tempat Sarah magang," jawab Bimo. "Dia lulus semester ini, kita baru putuskan setelah itu."

"Terus, apa kalian sudah memikirkan untuk hubungan yang lebih serius lagi?" goda Sarah.

Dengan tersenyum, Aldi merengkuh Mila dalam pelukannya. "Well, kita baru jalan beberapa bulan. Tapi semua bisa terjadi nanti."


Beberapa hari berikutnya...

Bimo tengah menggoyang Mila. "Ini yang kamu mau, jalang, ini yang kamu mau?"

"Oh god, yes, fuck me," jawab Mila. Dia kaitkan kaki jenjangnya melingkari pinggang Bimo dan ujung tumit sepatunya menancap kuat pada pantat Bimo. "Fuck me harder!"

Dengan kasar Bimo meremas buah dada Mila yang kecil saat dia menyetubuhinya. Bara kenikmatan menyengat Mila sewaktu Bimo menjepit putingnya yang sensitif. "Ya, begitu Bim, terus begitu!" desak Mila.

Bimo memperlambat goyangannya dan dengan ujung penisnya dia berusaha mencari titik g-spot Mila. Begitu Mila memekik parau, Bimo tahu kalau dia sudah berhasil mendapatkannya. Lalu dia percepat lagi ayunannya, mengarahkan batang penisnya sedikit miring pada setiap tusukannya agar dapat menggesek kelentit dan titik g-spot Mila. Suara rintihan Mila semakin terus terdengar saat Bimo memberinya gelombang kenikmatan ke sekujur tubuhnya. Dengan cepat orgasme Mila menerjang, membuat kakinya mengejang dan ujung jemari kakinya yang terbungkus stocking menekuk di dalam high heels yang dia pakai.

Bimo juga menyusul tak jauh lagi. "Aku hampir keluar," dia menggeram. Mila tak menggunakan birth control, tapi tak pernah dia menyuruh Bimo memakai kondom. Mila lebih suka begitu. Dia suka sensasi rasa dari otot batang penis yang bergesekan dengan dinding vaginanya. "Jangan keluarkan di dalam!" teriaknya.

"Oh ya?" Bimo mendesis penuh ancaman. "Terus aku keluarkan di mana?"

Dia cabut batang penisnya dan menjambak rambut Mila. Dia tersentak kesakitan saat Bimo menarik kepalanya mendekat ke s*****kangannya. "Gimana kalau di wajahmu?" geramnya sembari mengarahkan ujung penisnya pada wajah manis Mila.

"Jangan, jangan," tolak Mila, tapi terlambat. Diiringi dengan suara geraman, Bimo ejakulasi, menyemprot wajah manis Mila dengan air maninya.

Keduanya rebah ke atas ranjang, coba mengatur nafas yang memburu.

Akhirnya, Mila bangkit dan mengambil sebuah handuk, dia seka sperma dari wajahnya. Dengan memandang dalam cermin, dia menatap bayangan Bimo dengan pandangan jengkel. "Kenapa sih sampai kena rambutku?" gerutunya sambil mengusap rambutnya dengan handuk.
Bimo tertawa. "Biarkan saja," godanya. "Aku yakin Aldi akan suka melihatmu setelah dapat facial."

Mila menyeringai dan dengan jahil dia lemparkan handuk tersebut pada Bimo. "Hey, jangan lempar padaku," Bimo protes.

Mila pakai celana dalamnya lalu meraih bra-nya. "Janga pergi," ucap Bimo. "Tinggallah dulu sebentar lagi."

Mila merapikan stockingnya kemudian berusaha mengenakan gaunnya. "Aku tak bisa, aku harus pergi. Aku sudah ada janji dinner dengan Aldi."

Bimo mengamati Mila yang tengah mengenakan gaunnya. Tubuhnya begitu indah. "Bisa bantu dengan resleitingku?" tanya Mila, dia tahan rambutnya ke atas dan berbalik.

Bukannya membetulkan resleiting gaun Mila, Bimo malah menjulurkan tangannya ke depan untuk menggenggam buah dada Mila. Dia raba buah dada itu dari luar bra dan mencium leher Mila. "Tinggallah sebentar lagi," desaknya. "Kita bisa mengulanginya lagi."

Mila merasakan putingya kembali mengeras. Bimo juga merasakan itu dan di gesek dengan jepitan dua jarinya. Rasa nikmat menyergap tubuh Mila, dari puting ke kelentitnya. "God, dia sangat tahu betul cara merangsangku," pikirnya. Tapi akhirnya dia berhasil mengumpulkan kesadarannya untuk mendorong Bimo menjauh. "Bim, aku nggak bisa. Sudah kubilang, aku ada janji dengan Aldi."

Bimo mengangkat bahunya menyerah dan kemudian dia tarik resleiting gaun Mila ke atas. "Terus apa hubungan kalian akan berlanjut lebih serius lagi?"

Mila menjawab sambil merapikan rambut dan makeup-nya. Dia berusa mengabaikan denyutan di antara pahanya. "Aku belum tahu. Aku sungguh menyukainya tapi aku belum yakin apa ini akan terus permanen atau tidak. Maksudku, kami bahkan belum pernah bicara tentang pernikahan sama sekali."

Bimo meraih paha Mila dan mulai merayap naik hingga berhenti pada pantatnya yang kencang. "Lalu kalau kamu jadi menikah, apa kamu masih mengijinkanku menikmati ini?" goda Bimo dengan menyeringai.

"Aku nggak tahu," tukas Mila. "Kenapa nggak kamu tanyakan pada tunanganmu, Sarah?"

Nada suara Mila membuat Bimo terkejut. "Apa kamu marah padaku karena bertunangan?"

"Tidak, tentu saja tidak," jawab Mila cepat. "Aku turut bahagia untuk kalian dan aku suka Sarah, aku sungguh suka dia. Tapi sejak kita mulai persahabatan dengan nilai lebih ini, seharusnya hanya boleh kalau kita tak punya pasangan tetap. Apa kamu nggak merasa kalau kita harus sudahi ini semua? Kita sudah milik orang lain sekarang."

"Ayolah, Mil," jawab Bimo said dengan sinis. "Kita sudah pernah punya pasangan dulu dan kamu nggak pernah komplain."

"Kamu sudah tunangan, brengsek!" teriak Mila.

Bimo masih tetap sinis. "Oh, ayolah. Hubunganku dengan Sarah belum berjalan terlalu lama. Kamu kan tahu kalau tunangan kami baru berjalan sebentar. Kenapa kamu jadi marah sekarang?"

"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" Mila terus mencecar. "Apa kamu akan terus selingkuh dibelakang Sarah selamanya?"

Bimo rebah di atas ranjang, kedua tangan di bawah kepalanya. "Mungkin."

Dengan mata terbelalak lebar, Mila menyusul duduk di ranjang. "Kamu bercanda? Bahkan setelah kalian menikah? Bagaimana kamu bisa menghianati dia seperti itu? Kukira kamu mencintainya."

"Tentu saja aku mencintai Sarah, itu alasan aku akan menikahi dia." Bimo bangkit dan duduk di sebelah Mila. Dengan menyeringai dia berucap, "Dengar Mila, kita sudah berteman sangat lama, kan? Jadi jangan marah kalau aku bilang ini, tapi memang inilah kenyataannya, selingkuh itu menyenangkan."

"Apa?" tanya Mila dengan gusar.

"Kamu dengar apa yang sudah kukatakan. Ini semua tentang jadi nakal. Tentang m*****gar batasan. Tentang resikonya. Kalau kamu terus berjalan lurus-lurus saja, seks akan jadi membosankan. Itu sebabnya kamu sering dengar kalau orang yang sudah menikah jadi jarang berhubungan seks. Seks itu hanya jadi menyenangkan kalau dilakukan dengan nakal, terlarang. Jadi, mungkin aku akan terus selingkuh di belakang Sarah. Itu akan membuatku tetap tertarik dengan seks dan itu bagus untuk pernikahan kami."

Mila tak sanggup mempercayai apa yang dia dengar. "Ya, benar, tetaplah dengan prinsipmu itu," jawabnya dengan tertawa. "Tapi kamu harus cari pasangan selingkumu yang lain. Kalau Aldi melamarku, itu akan jadi akhir hubungan kita ini."

Tangan Bimo terjulur dan mulai membelai paha Mila. Dia dekatkan wajahnya pada Mila. "Ayolah. Kamu tak mungkin serius," bisiknya di telinga Mila. "Ini akan jadi jauh lebih menyenangkan, setelah kamu tunangan."

Tangan Bimo berhenti di balik gaun Mila dan detik berikutnya dia sudah membelai kulit telanjangnya di atas stocking. Bimo juga mencumbu lehernya, yang selalu dapat merangsang Mila. Tangan Mila mencoba menghentikan laju tangan Bimo di dalam gaunnya, tapi Bimo terus melaju dan berikutnya dia sudah sampai bahan tipis dari celana dalam berenda yang dikenakan Mila. Bimo memberinya sebuah french kiss dan Mila mendapati dirinya membuka kedua pahanya untuk Bimo. Bimo segera menggesek kelentit Mila dari luar celana dalamnya.

"God," Mila melenguh. Rasanya sungguh enak. "Apa – apa maksudmu, lebih menyenangkan?" dengan susah payah Mila coba bertanya saat dengan perlahan tubuhnya mulai menggeliat pada tangan Bimo.

Bimo menarik Mila untuk berdiri, ujung tumit sepatunya mengentak di atas lantai kayu. Bimo singkapkan gaun Mila hingga pinggang. Dia tarik celana dalamnya ke samping dan menurunkan tubuh Mila menuju ujung penisnya yang telah mengeras kembali. Sembari dia tusukkan batang penisnya membelah tubuh Mila, dia mendesis, "Berselingkuh di belakang kekasihmu sudah terasa menyenangkan." batang penis Bimo sudah terbenam seluruhnya sekarang dan dia mulai menyodok Mila. "Akan terasa jauh lebih seru saat selingkuh di belakang tunanganmu!"

Mila sudah berada di ambang orgasmenya lagi dan dia tahu kalau Bimo juga. Dengan nafas tersengal, Mila berusaha untuk memperingatkan Bimo, "Jangan keluarkan di dalam."

Tapi Bimo tak mengacuhkannya. Dia kencangkan cengkeramannya pada pinggang Mila saat dia menyodoknya semakin keras, mencegah Mila agar tidak menjauh. Dia ingin keluar di dalam wanita manis tersebut. Dia ingin agar Mila terisi dengan air maninya saat dia bertemu dengan kekasihnya, Aldi malam ini nanti.

Cewek di Kampus ku


Cewek di Kampus ku. Di kampusku ada seorang cewek cakep yang selalu jadi perbincangan di antara teman-teman cowokku, Sebut saja Lia namanya. Sebenarnya dia tidak terlalu cakep banget, tetapi bodynya...., wow...., sungguh ideal, seksi dan sialnya dia tahu kelebihannya tersebut. Lia sering (atau mungkin suka) berpakaian ketat, sehingga memancarkan daya tariknya itu. Tak heran jika banyak cowok yang mencoba mendekatinya dan mengajaknya berkencan, apalagi dia orangnya juga supel, tapi selama ini belum pernah ada yang berhasil. Saya sebagai lelaki normal, sering juga menggodanya, tapi belum pernah mengajaknya kencan, kecuali hanya sebagai teman bercanda. Padahal kata teman-temanku, dia suka menanyakan bahkan mengirim salam kepada saya jika saya kebetulan tidak berada di kampus.

Waktu terus berjalan, dan di antara teman-teman, yang bisa dekat dengannya hanya saya. Saya sendiri tidak tahu mengapa. Tapi jika dirunut, sebenarnya justru dialah yang selalu mencoba dekat denganku. Bukannya saya ge-er. Pernah saya mencoba bertanya kepadanya tentang hal ini, jawabnya adalah karena saya ini orangnya sedikit cuek dan enak untuk diajak bertukar pendapat. Hatiku berbunga juga mendengar jawaban itu, dan kedekatan ini berjalan semakin erat, bahkan boleh dibilang seperti pacaran. Sering dia minta ditemani, beli buku, pakaian, bahkan sampai ke acara resmi, seperti ulang tahun dan pernikahan teman-temannya. Memang cukup berkesan juga kedekatan itu bagiku, akan tetapi ada satu peristiwa yang sampai benar-benar sangat mengesankan dan sampai sekarang tak akan pernah kulupakan.

Suatu saat aku diminta menemani mengantar neneknya ke Jakarta. Saya sih oke saja, tapi pada saat itu kebetulan saya tidak memiliki ongkos. Lia mengatakan bahwa keluarganyalah yang akan menanggung (saya memang dekat dengan keluarganya). Akhirnya saya berangkat menemani dia dan neneknya dengan menggunakan kendaraan dari agen travel.

Di dalam kendaraan, kami duduk bertiga, saya, Lia dan neneknya. Selepas luar kota, tiba-tiba kantukku datang, di tengah suasana lampu dalam kendaraan yang remang-remang. Mungkin juga disebabkan karena saya kelelahan karena mengikuti kegiatan di kampus siangnya. Sebelum tertidur sempat kulihat Lia dan neneknya telah terpejam lebih dulu.

Tengah malam aku terbangun, karena aku merasa tanganku ada yang menjepit. Kubuka mataku, aku terkejut, karena tanganku telah dipeluk Lia hingga tanganku menekan buah dadanya yang padat dan kenyal (kata teman-temanku) di balik kaos ketatnya. Lebih terkejut lagi, setelah aku mengetahui bahwa tangan kirinya ternyata telah berada di antara s*****kanganku. Kucoba melepaskan tanganku, karena risih takut jika dilihat oleh orang (selama ini saya belum pernah sedekat ini dengan cewek, apalagi cewek seksi). Tapi dia seakan-akan menahan tanganku, tak mau melepaskannya. Tiba-tiba ia tersenyum, sambil berbisik, "Nggak apa-apa, Lia suka kamu", sambil merapatkan buah dada kirinya ke tanganku, hingga dapat kurasakan goncangan buah dadanya seiring goncangan kendaraan. Tiba-tiba ia mencium belakang telingaku cukup lama, sampai penisku menegang. Tahu bahwasanya penisku telah mengeras, ia malah menyelusupkan tangan kirinya ke balik kaosku, kebawah, dan mencoba masuk ke celana jeansku yang agak longgar, dan akhirnya...., digenggamnya penisku. "Besar sekali..., gemes aku", bisiknya sambil memejamkan matanya. Dan aku kembali memejamkan mata untuk tidur sambil menahan gejolak yang ada di dada.

Menj***** subuh, kami bertiga tiba di tempat neneknya dengan disambut oleh kakeknya. Setelah berbasa-basi sebentar, saya diantar ke kamar yang ada di belakang dan berdekatan dengan kamar Lia. Dan akhirnya kurebahkan badanku, kelelahan dan tertidur.

Pagi hari, antara sadar dan tidak, kucium bau segar orang habis mandi. Kucoba membuka mata dan kulihat Lia sedang sibuk membuka ransel carrier-ku. Bawaanku dan bawaan Lia dijadikan satu untuk menghemat barang bawaan. Kuingat-ingat lagi, ternyata sebelum tidur saya lupa mengunci pintu, hingga ia bisa dengan mudah masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

Dia hanya memakai kemeja putih longgar yang bersih dan tipis sampai sebatas paha. Lia tampak segar, rambutnya masih basah sehabis mandi. Kulihat aktivitasnya dari tempat tidur, agaknya dia belum tahu kalau mataku sudah terbuka dan dia membungkuk ke arahku. Sempat kulihat buah dadanya yang selama ini jadi tebakan ukurannya oleh teman-temanku dari belahan bajunya dan ternyata ia tidak memakai BH. Tampak putih bersih, mengkal, dengan puting berwarna kemerahan, bergoyang-goyang. Kurasakan ada yang menyodok dari balik celana pendekku.

"Eh.., udah bangun, bantuin buka tasnya dong....", katanya ketika menoleh ke arahku. Aku tersenyum, bangun, dan meraih segelas teh yang sudah ada di atas meja. Lalu aku berjongkok di depan Lia, sambil membantunya membuka ranselku. Kulirik kedua kakinya yang putih bersih sampai ke pangkal pahanya. Gejolakku timbul memberontak dan desakan penisku kurasakan semakin keras.

"Nih udah, mau ambil apa?", tanyaku. "Mau ngambil BH-ku", jawabnya sambil menunduk hingga aku dapat melihat dari dekat buah dadanya yang padat dari tempatku berjongkok. Tiba-tiba ia memalingkan mukanya ke arahku, beradu pandang sejenak denganku, dan..., tanpa kuduga ia mengecup bibirku sesaat. Segar kurasa bibirnya. Kuberanikan diri untuk membalasnya dan ditanggapinya dengan hangat. Dijulurkan lidahnya dan diadu dengan lidahku. Kalau boleh aku katakan Lia memang cewek yang agresif dan berani.

Sesaat lamanya kami melakukan french kiss, sampai akhirnya dia merebahkan badannya ke tempat tidur, sambil menarik tanganku. Akupun jatuh di atas tubuhnya. Tubuh Lia gemetar. Buah dadanya mulai mengeras, berhimpit dengan dadaku. Kulumat habis bibirnya. Kujilati seluruh wajahnya. Lia hanya mendesah pendek, sambil mengangkat kedua kakinya menjepit tubuhku. Kualihkan jilatanku ke lehernya, sambil kugesekkan penisku yang terbungkus celana ke s*****kangannya. "Ekkhh..., sstt...", desahnya pendek.

Kusibakkan kemejanya yang tidak dikancingkan bagian atasnya. Buah dadanya yang besar tapi ideal, nampak menjulang dengan puting merahnya telah mengeras. Kujilati buah dadanya kanan kiri secara bergantian. Lia menggelinjang kenikmatan sambil membusungkan dadanya. "Eeerrgghhh...", erangnya ketika kugigit-gigit puting dan kuremas-remas buah dadanya.

Aku beralih ke telinga, kuciumi, kukulum dan kujilati, sambil kubisikkan, "Susumu besar dan mengkal, berapa sih ukurannya?", "36.., errrgghh...", jawabnya sambil menahan nikmat. Tangannya mulai menyusup ke celana dalamku, memegang penisku dan meremasnya. Tiba-tiba..., tangannya meremas kuat penisku, tubuhnya mengejang, dan akhirnya melemas. Tampaknya Lia sudah mengalami orgasme untuk yang pertama kalinya.

Aku membuka kaus dan celanaku hingga aku telanjang bulat. Dia pun membuka kemeja dan melepas celana dalamnya. Vaginanya yang merah berbulu tak terlalu lebat, tampak mengkilap berair. "Udah banjir yaa...", godaku. Lia hanya tersenyum sambil tiduran mengangkang lebar-lebar.

Kucium lututnya, ke atas, ke paha. Lia hanya bisa menggerakkan kakinya menjepit kepalaku. Klitorisnya tampak menyembul di antara celah vaginanya. Kuhampiri dan kujilati dengan penuh perasaan. Semakin keras jepitan kakinya. Lia pasrah dan hanya bisa menggerakkan pinggul ke atas, kanan, dan kiri. Kusibakkan bibir vaginanya, kujilati vagina bagian dalamnya yang sudah basah. Kugoyangkan kepalaku, sambil menjulurkan lidahku kedalam. Terdengar bunyi gemericik air vaginanya, dan "Ss.., aarrghhh..., ekh..., Andi, aku..., nggak tahaaan..., lagii...". Dan keluarlah air kewanitaannya.

Aku merangkak menciumi seluruh tubuhnya hingga berakhir di bibirnya. Matanya terpejam, sementara tangannya mengusap-ngusap pinggulku dan meraih penisku. Ditariknya penisku, kurasakan hangat bibir vaginanya. "Dorong.., Andi..., sshhhh...". Tak segera kulakukan, hanya kugesekkan saja. Kucoba menggodanya dan Lia tersenyum karena tahu kugoda. Dibimbingnya lagi penisku ke vaginanya. Dan kudorong pelan-pelan. Lia tersentak, kedua tangannya ke samping menarik seprei. Dia tampaknya menahan nikmat yang luar biasa. Sungguh sulit penisku masuk, karena sempitnya lubang vaginanya. Kudorong kuat-kuat..., dan akhirnya..., slepp..., penisku masuk setengahnya..., dan kudorong lagi..., slepp..., masuk semuanya. Hangat kurasa di dalam vaginanya, seakan tak rela kulepaskan. Terdiam kami berdua, seakan saling menikmati surgawi ini. Lia dengan pelan-pelan menggoyangkan pinggulnya. Akupun tak mau kalah, kudorong penisku maju mundur, sambil melumat bibirnya, dan kuremas buah dadanya. Kaki Lia terjuntai ke atas, merangkul dan menekan pinggulku dan kami bersatu dalam kenikmatan.

Setelah beberapa lama, kugulingkan badanku, hingga Lia berada diatas. Ditegakkannya tubuhnya yang berkeringat dan digerakkan naik turun. Kunikmati gerakan payudaranya yang bergoyang-goyang. Lia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengerang kenikmatan. Dia memegang lenganku keras sekali..., dan mengerang tertahan, "Eeaargghhh.....". Kurasakan cairan hangat membanjiri penisku di vaginanya. Puncak yang kedua sudah Lia peroleh, dan tubuhnya kembali melemas.

Dengan tanpa melepas penis dari vaginanya, kubopong dia. Aku berdiri, sementara Lia merangkulku, dengan kaki menjepit pinggul, sehingga posisinya menggantung di tubuhku. Kudorong maju mundur penisku sambil kuguncang tubuhnya. "Pyek..., pyek...", terdengar dari vaginanya yang basah, seiring gerakanku. Payudara yang kenyal tersebut juga bergoyang-goyang sehingga menambah rangsanganku.

Kembali kurebahkan tubuhnya ke tempat tidur dan kembali ke posisi konvensional tanpa melepas penisku. Tangannya memeluk pinggulku, menarik badanku hingga menambah nafsuku untuk semakin menghunjamkan penis dengan lebih keras dan cepat. Lia memberi variasi, dengan menggigit dan melepas penisku dengan bibir vaginanya. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa hingga, "Lia...., eerghhh..., aku nggak tahan..., arrgghhh..., mau keluarrr...", "Aku ..., erghh.., sshh..., jugaaa...". Dan akhirnya, "Cret.., crett....", penisku mengejang-ngejang menyemprotkan air mani, seiring dengan tubuh Lia yang mengejang orgasme.

Tubuhku seperti dilolosi tulangnya, jatuh di atas tubuh Lia. Kukulum bibirnya dan kukecup mesra dan Lia berkata, "Kamu sungguh hebat...", diiringi dengan senyuman bahagianya. Kukecup pula bibirnya dengan mesra dan bahagia.


TAMAT