SELINGKUH PENUH RANGSANGAN BAGIAN 10


Satu bulan kemudian...

Mila menutup pintu lalu berjalan masuk ke dalam kamar tidurnya. Dia menginap di rumah orang tuanya malam ini dan mereka baru saja pulang dari persiapan acara makan malam. Aldi menginap di hotel. Dia tak boleh menemui calon pengantinnya lagi hingga besoknya, saat hari pernikahan mereka.

Mila memandang dirinya di cermin. Kehamilannya belum nampak, thank goodness. Dia ingin terlihat cantik untuk Aldi besok dalam gaun pengantinnya.

Dia merasa begitu horny. Hormon tubuhnya jadi menggila. Dia belum merasakan morning sickness. Tapi hormonnya membuat dia lebih horny dari biasanya. Dia pernah membaca kalau itu sering terjadi. Kehidupan seksnya dengan Aldi tidak berangsur membaik, tapi rasa cintanya pada Aldi jauh lebih besar dari yang pernah dia rasakan terhadap semua pria sebelumnya. Namun dia jadi serasa gila oleh tuntutan seksual yang dirasakannya, tapi dia selalu yakinkan dirinya sendiri bahwa itu semua akan mereda setelah hormon tubuhnya kembali normal.

Memandang dirinya di cermin, seakan memandang seseorang di dalam TV, dia lepas kancing blousnya dan membiarkannya jatuh, lalu tangannya bergerak ke dadanya. Jemarinya menyusuri bra yang dia pakai, mengikuti pola rendanya. Lalu dia gerakkan jarinya melingkar di atas putingnya. Putingnya bereaksi dan mulai mengeras di dalam branya.

Dia singkapkan roknya dan tangannya yang satu lagi menyusup ke balik celana dalamnya. Satu tangan mengelusi dadanya, satunya lagi menjelajah di balik celana dalamnya. Dia terus pandangi dirinya di dalam cermin, berhayal tangan Aldilah yang sedang menyentuhnya. Tapi itu tak berhasil. Meskipun merasa sedikit bersalah, dia berhayal seorang pria tak dikenal tengah menyentuhnya, seorang pria dengan tubuh kekar dan memiliki batang penis yang besar. Lalu hayalannya berganti, pria itu adalah Bimo. Bukankah tidak dosa jika hanya berhayal, kan? Itu tidak selingkuh. Dia pejamkan mata kala berhayal sedang disetubuhi Bimo, batang penisnya yang panjang menusuknya demikian dalam, tangannya yang kekar menggerayangi sekujur tubuhnya.

Suara jendela kamar yang berderik, mengagetkannya. Dia buka matanya dan menoleh ke arah jendela.

Itu adalah Bimo.

Mila langsung melompat dan memakai jubah mandinya. Dia buka jendela kamarnya.

"Kamu terlihat cantik." puji Bimo, dia tarik sedikit jubah mandi Mila ke samping dan mengintip bra yang dipakai Mila.

Mila rapatkan kembali jubah mandinya dan dan melotot galak pada Bimo. "Mau apa kemari?"

Bimo angkat ujung jubah mandi Mila, lumayang tinggi hingga memperlihatkan pangkal stockingnya.

Bimo melirik paha jenjang dan kencang milik Mila. "Aku kangen kamu. Kamu begitu menggoda. Aku harus setubuhi kamu untuk yang terakhir, sebelum kamu menikah."

Mila terperanjat dengan keterus-terangan Bimo. Mila kira Bimo mengerti kalau hubungan khusus mereka sudah berakhir. Dia turunkan ujung jubah mandinya.

"Kamu sedang membayangkanku, kan?" tanya Bimo, dia buka kembali jubah mandi Mila.

Mila tersipu malu. Bimo tersenyum penuh kemenangan, menyaksikan jawabannya di wajah Mila. Dia ulurkan tangannya dan menangkup buah dada Mila.

Mila rasakan remasan jari Bimo pada putingnya. Dia paksakan diri untuk bergerak mundur, menjauh dari jangkauan Bimo dan kembali dia rapatkan jubah mandinya. "Kamu harus pergi. Keluargaku ada di bawah dan aku akan menikah besok."

"Oh, jadi kalau kita sendirian, kamu mau?"

"Bukan itu maksudku."

"Kurasa iya." Bimo membungkuk dan menciumya. Mila mendorongnya mundur, tapi Bimo memaksa. "Kamu sama menginginkannya sepertiku," ucapnya saat dia cium Mila lagi. "Aku bisa rasakan, kamu sudah horny nggak karuan." Bimo tarik jubah mandi Mila melewati bahunya dan menjatuhkannya ke atas lantai.

"Satu kali lagi, Mila. Satu kali lagi demi masa lalu. Bayangkan bagaimana nikmat rasanya."

Mila rasakan lidah Bimo menjelajah dalam mulutnya. Benak Mila silih berganti antara panik dan terangsang lalu panik lagi. Orang tuanya ada di lantai bawah sekarang ini.

Bimo membelai buah dada Mila. Dia rasakan puting Mila mengeras dan diapun tersenyum, mengetahui dia sudah berhasil mendapatkan Mila. Menyetubuhi Mila di malam sebelum dia menikah akan jadi penaklukannya yang terbesar. Mungkin saja dia akan menyuruh Mila memakai baju pengantinnya, menyetubuhinya dengan memakai itu. Bimo bayangkan Mila berjalan menuju altar, dengan bercak-bercak bekas spermanya yang mengering pada gaun pengantinnya.

Bimo julurkan tangannya ke pangkal paha Mila dan tusukkan jarinya ke dalam vagina Mila. Brengsek, si binal ini sudah basah kuyup! Bimo merasa gembira mendengar Mila melenguh saat dia mengocoknya dengan jarinya. Sialan, ini akan jadi lebih gampang dari yang dia kira.

"Rasakan ini," kata Bimo, menekankan ereksinya ke perut Mila. Kemudian dia genggam tangan Mila dan membuatnya memegang batang penisnya. "Kamu kangen batang besarku?"

Mila rasakan sekujur tubuhnya disengat rangsangan saat dia sentuh batang penis Bimo. Terasa begitu keras dan besar. Mila merasa lututnya lemas, vaginanya terbakar birahi, tubuhnya mendambakan kepuasan seksual. Tapi dia tak bisa menghianati Aldi lagi, dia tak bisa, tidak di malam sebelum dia menikah!

"Nggak, Bimo, jangan," protesnya dengan sisa kekuatan terakhirnya, dia dorong Bimo menjauh.

Bimo tersenyum dan menarik tubuh Mila kembali. "Kamu ingin kasar, hah? Ok, aku bisa melakukannya." Dia sentakkan turun resleiting rok Mila dan dengan kasar membetotnya turun hingga lantai, kemudian dia renggut paksa hingga robek celana dalam Mila, menyisakan si calon pengantin yang cantik hanya memakai thigh highs dan sepatu. Dia hempaskan Mila ke atas ranjang, hingga ranjang tersebut berderit keras menghantam dinding. Dia lepaskan baju dan celananya, mengeluarkan batang penisnya.

Mila tak bisa mencegah memandangi tubuh Bimo dengan hasrat tertahan. Hampir dia lupakan betapa mengagumkan Bimo terlihat, begitu kekar dan gagah. Serta urat yang menghiasi bagian sisi batang penisnya yang panjang dan gemuk membuat Mila gemetar menanti. Dia tak pernah bisa menolak Bimo dan sekarang ini, hormon tubuhnya begitu menggila, tubuhnya mendambakan Bimo melebihi yang pernah dia rasakan selama ini.

"Mila, sayang," terdengar suara dari luar kamar. "Kamu nggak apa-apa? Kurasa aku dengar suara keras tadi."

Mila dan Bimo sama-sama menatap pintu kamar. "Oh my god, itu mamaku!" bisik Mila cepat, wajahnya memancarkan campuran rasa lega dan kecewa. Suara mamanya telah mengembalikan kesadarannya. "Pergilah sekarang, atau aku janji akan teriak."

Bimo nyaris tertawa. "Kamu nggak akan berani," tantangnya.

"Aku berani sumpah, Bimo. Kalau kamu nggak pergi sekarang, aku akan teriak diperkosa!"

Bimo sadar Mila serius. "Brengsek Mila, kamu tega melakukan ini padaku, setelah semua kenangan kita bersama selama ini?" lalu dia menunjuk pada penisnya yang begitu keras. "Apa yang harus kulakukan dengan ini?"

"Mila, sayang, kamu nggak apa-apa?" mereka dengar mama Mila memanggil. Suaranya terdengar mendekat, mamanya tentu sedang menaiki tangga, dan sebentar lagi akan mengetuk pintu kamar tersebut. Mila sadar kalau dia butuh kerja sama dari Bimo. Dia tak punya waktu untuk berdebat dengan Bimo lagi, dia butuh kerjasamanya sekarang juga, atau mereka akan tertangkap basah.

"Ok, ok, ok," bisik Mila cepat. "Sembunyi di dalam almari pakaian, dan... dan..."

Dia berhenti, berpikir dengan cepat, memikirkan pilihannya.

"Sembunyilah dalam almari dan akan kuberi kamu blowjob, akan kuhisap kamu sampai keluar."

Mila melihat Bimo merengut padanya. "Itu pilihan terbaik yang bisa kamu dapat!" desisnya pelan. "Atau, aku akan teriak perkosaan!"

Mereka dengar suara langkah kaki tepat di depan pintu. Bimo tahu dia tak punya pilihan. Dia mengangguk setuju, lalu menghilang ke dalam almari.

Pintu kamar diketuk. Dengan cepat Mila pakai jubah mandinya dan bukakan pintu. "Hai ma," ucapnya, dia paksakan untuk tersenyum. "Nggak apa-apa, aku Cuma terpelest saja kok."

Mamanya terlihat khawatir. Dia tepuk pelan perut Mila. "Kamu harus hati-hati, sayang, kamu punya yang berharga sedang tumbuh di dalam sini."

"Aku tahu ma," jawab Mila, berusaha terdengar riang. "Aku hanya sedikit gelisah menunggu besok. Selamat tidur."

Sesaat kemudian, Bimo menghambur keluar dari dalam almari sambil menyeringai.

"Aku senang kamu menikmatinya," kata Mila sinis.

"Well, sebenarnya aku lebih suka menyetubuhimu, tapi aku sudah temukan cara agar blowjob jadi menarik."

Mila melotot padanya. "Kamu nggak pernah komplain soal blowjob sebelumnya." Mila mengisyaratkan Bimo untuk duduk di ranjang. "Ayo, kita selesaikan ini."

"Nggak usah buru-buru," kata Bimo, dia duduk di tepi ranjang. "Partama, buka pakaianmu."

Mila ragu, kemudian dia angkat bahunya. Apa bedanya? Bimo sudah sering melihat tubuhnya. Dia lepaskan tali jubah mandinya dan menjatuhkannya ke lantai, lalu dia berlutut di antara paha Bimo.

"Kubilang, nggak usah buru-buru. Temanmu memberimu sebuah bustier baru, kan? Sarah cerita padaku. Kamu akan memakainya besok, di dalam gaun pengantinmu? Pakai sekarang."

Mila melotot pada Bimo. Dia tahu apa yang Bimo mau. Bimo ingin jadi pria pertama yang akan menyentuhnya dalam balutan bustier tersebut. Jadi pria pertama yang akan berhubungan seks dengannya saat memakai itu. Untuk mengalahkan Aldi tentunya.

"Cepatlah," desak Bimo dengan seringai jahatnya. "Ini akan jadi lebih cepat kalau kamu turuti apa yang kukatakan."

Mila sadar kalau Bimo benar. Lagipula, dia tak punya waktu untuk berdebat dengannya. Mama atau saudaranya bisa saja datang setiap saat. Dia harus mengeluarkan Bimo dari kamarnya dan dia harus melakukannya dengan segera.

Sambil mengangkat bahunya, Mila bangkit dan mengambil bustier tersebut dari tumpukan lingerie pengantinnya. Warnanya putih tulang dan terbuat dari sutera mahal, berhiaskan corak renda yang rumit, sebuah bustier pengantin bergaya klasik. Dia kenakan di tubuhnya, lalu mulai memasangkan garter straps ke thigh highs yang sudah dia pakai.

"Bukan yang itu," kata Bimo, menggelengkan kepala. "Pakai yang akan kamu pakai besok."

Mila melotot pada Bimo, tapi mereka berdua tahu Mila tak punya waktu untuk berdebat. Dia lepas thigh highs hitam yang dia pakai tadi, kemudian dia ganti dengan yang berwarna putih. Stocking untuk gaun pengantinnya memiliki bagian pangkal berenda yang lebar dan dia kaitkan dengan straps bustiernya.

"Dan sekarang sepatunya. Pakai yang untuk besok juga."

Mila sudah tak ingin memelototi Bimo lagi kali ini. Dia ambil sepatu untuk pernikahannya besok, bertekstur sutera warna putih tulang dan memiliki tumit setinggi 3 inchi, dia memakainya.

"Bagus, sangat cocok," puji Bimo. "Aldi benar-benar pria beruntung. Sayangnya dia nggak bisa memuaskanmu seperti aku." ejeknya. "Satu lagi. pakai kerudungnya."

Mila ragu, dia rasa Bimo sudah keterlaluan. Tapi dia juga sudah terlalu lama berada dalam kamarnya. Akhirnya dengan enggan dia kenakan kerudung pengantinnya.

Setelah Mila memakainya, Bimo kembali mengangguk kagum memandanginya. Mila terlihat memukau, lugu dan sekaligus binal juga, selayaknya mimpi basah dari semua top model bugil majalah pria dewasa. "Ayo," perintahnya, dia buka pahanya lebar. "Kamu tahu apa yang harus kamu kerjakan."

Mila berlutut dan dia genggam batang penis Bimo. Selalu saja membuatnya kagum, meskipun kedua telapak tangannya menggenggam bertumpukan, masih tetap ada bagian yang tersisa.

Seingat Mila, belum pernah dia rasakan batang penis Bimo sekeras sekarang ini dan kelihatannya batang tersebut berdenyut mengundangnya. Dia tepiskan kerudungnya ke samping dan mulai memasukkan ujung penis Bimo ke dalam mulutnya, kedua tangannya masih tetap menggenggam di bawah. Kerudungnya jatuh menutupi wajahnya dan dia kembali tepis ke samping lagi, kali ini ke belakang telinga, berharap tidak jatuh ke depan lagi. Dia tak mau jadi ternoda oleh cairan pre-cum Bimo.

Susah payah Mila masukkan batang penis Bimo ke dalam mulutnya. Dia hampir lupa bagaimana cara memblowjob batang penis dengan ukuran yang besar. Bagaimana sulitnya. Dan juga, betapa menyenangkannya.

Dia tergoda untuk memainkan jarinya di vaginanya sendiri. Itu yang selalu dia lakukan dengan Bimo waktu dulu. Mila akan memainkan vaginanya dengan jarinya sendiri, saat Bimo setubuhi mulut dan wajahnya. Tapi rasa marah dan bencinya mencegah Mila melakukan hal itu. Dia tak mau memberi Bimo rasa puas, tak ingin Bimo merasa kalau dia menkmati semua ini barang sedikitpun.

Bimo tak sanggup bertahan lama. Dengan cepat dia mulai menggelinjang tak karuan. Dengan susah payah Mila berusaha untuk tak melepaskan batang penis Bimo dari mulutnya. Kemudian tubuh Bimo mengejang, pahanya mengencang, pantatnya terangkat naik dari atas ranjang dan dia berejakulasi, mengerang puas saat orgasme menyengat tubuhnya.

Mila tetap berusaha agar bibirnya terus mengunci kepala penis Bimo. Dia berusaha untuk menelan semua sperma yang disemburkan Bimo, dia tak mau sampai menodai busana pengantinnya. Tapi Bimo tak akan membiarkannya. Dia lepaskan paksa mulut Mila dari penisnya, lalu dengan kejamnya dia sembur wajah, rambut, kerudung dan bustier Mila dengan spermanya yang kental.

"Argh, bajingan kamu!" teriak Mila sembari berlari ke kamar mandi dalam kamar tidurnya. Dia ambil handuk dan berusaha semampunya untuk menghapus sperma Bimo dari kerudung dan bustiernya.

Bimo menyeringai jahat. Seharusnya kamu biarkan aku setubuhi kamu, batinnya. Mungkin aku akan keluarkan di dalam saja.

Bimo kenakan pakaiannya dan menuju ke jendela, siap untuk pergi. Dia menatap Mila, air matanya meleleh membasahi pipinya, masih berusaha membersihkan spermanya dari kerdudung dan bustiernya dengan susah payah. Bimo nyaris tertawa. Dia lirik paha Mila. Stockingnya jadi meninggalkan bekas sedikit cacat, terlihat pada lututnya karena berlutut saat dia memblowjobnya. Bimo julurkan tangan memegang tumpukan lingerie pengantin Mila. Dia lihat cadangan stocking pengantin Mila, masih terlipat rapi dalam bungkusnya. Bimo mengambilnya dan langsung dia masukkan ke dalam sakunya. Dia tersenyum, karena dia tahu Mila tak akan punya pilihan lagi selain harus memakai stocking yang dia pakai sekarang untuk pernikahannya besok.

0 komentar:

Posting Komentar