SELINGKUH PENUH RANGSANGAN BAGIAN 9



"Ada apa nih?" tanya Bimo, sambil duduk. "Sudah lama sekali kamu nggak mengajakku makan siang. Akhirnya kamu memaafkanku soal yang di kereta? Kamu tahu kan, aku hanya..."

"Aku hamil," potong Mila.

Ucapan Mila sangat mengejutkan Bimo. "Wow," ucapnya, ekspresi wajahnya menggambarkan apa yang dia rasa. Lalu dia paksakan untuk tersenyum. "Well, itu bagus. Lebih cepat dari harapanku, tapi what the hell. Congrats, untuk kalian berdua, kamu dan Aldi."

Mila menunduk. Bimo melihat kegelisahan di wajah Mila dan dia segera faham. "Tunggu sebentar," ucapnya pelan. "Ayahnya bukan Aldi?"

Mila mengangkat kepala, menatap Bimo dan kemudian mengangguk.

Mata Bimo terbelalak lebar. Lalu terbersit sesuatu di kepalanya yang membuatnya gembira. "Bayiku?"

Mila terlihat kaget, tapi kemudian dia sadar itu pertanyaan yang wajar. Hal itu membuatnya semakin merasa begitu murahan. Kembali dia gelengkan kepala. "Bukan," dia menjawab dengan suara begitu lirih, seakan tak ingin orang-orang di sekitar mereka mendengarnya. "Aku ketemu dengan seseorang di bar. Ini hanya one night stand saja."

Bimo berusaha sembunyikan kekecewaannya. Dia akan senang sekali menaklukkan Mila. Dia mengangkat bahunya, coba sembunyikan rasa kecewa dan sakitnya. "Lalu, kenapa kamu ceritakan padaku? Kenapa nggak kamu ceritakan saja pada si tuan One-Night-Stand?"

Sekarang giliran Mila yang terkejut. "Kenapa kamu nggak berhenti bersikap menjengkelkan dan jadi temanku? Aku sedang dalam masalah. Aku butuh bantuan."

Bimo diam, coba mengontrol amarahnya. Mila tak pernah membalas telponnya sejak pesta pertunangannya. Sekarang dia sudah dihamili oleh pria yang benar-benar tak dikenal. Kalau Mila ingin sex, kenapa tak menghubunginya saja? Dia sungguh marah pada Mila dan dia ingin Mila tahu itu. Tapi ini bukan waktunya, tidak jika dia masih ingin mendapatkan kenikmatan dari tubuh Mila lagi.

"Oke, oke," jawabnya dengan suara yang lebih lembut, memaksa dirinya untuk terdengar wajar. "Aku minta maaf. Apa Aldi tahu?"

"Ya. Dia pikir ini bayinya."

"Kamu yakin bukan dia ayahnya?"

Mila kembali menunduk. "Ya, sangat yakin," jawabnya. Dia tatap Bimo. "Apa yang harus kulakukan? Kamu tahu pandanganku tentang aborsi."

Bimo mengamati Mila. Matanya merah, rambutnya kusut. Dia tak memakai makeup sama sekali dan hanya mengenakan celana jeans biasa, kaos putih dan sepatu kets. Diluar itu semua, Mila tetap terlihat menggairahkan. Meskipun jeans yang paling sederhana sekalipun tak akan bisa menyembunyikan pantatnya yang indah, sepasang paha jenjangnya serta bahan kaos putihnya lumayan tipis untuk memperlihatkan bra berenda yang dia pakai. Melihat itu, Bimo teringat betapa sempurnanya bentuk buah dada Mila. Meskipun sekarang dia tahu Mila hamil, itu sama sekali tak mengganggunya. Bahkan itu semakin membuat birahinya tergelitik. Bimo merasa penisnya mengeras. Bayangan bersetubuh dengan Mila yang hamil, perutnya yang besar dengan jabang bayi di dalamnya, buah dadanya yang membesar, sangat menggugah birahinya.

"Menurutku kamu jalani saja dan lahirkan bayinya," kata Bimo. "Biarkan Aldi menganggap itu bayinya."

"Sungguh?" tanya Mila, wajahnya berangsur cerah. "Apa nggak masalah kalau nggak memberitahu dia yang sebenarnya?"

"Dia bahagia kan? Memberi tahunya hanya akan membuat kacau, karena apapun yang terjadi berikutnya, dia nggak akan senang dan juga kamu. Dengar, ini sering terjadi. Ini nggak perlu merusak kehidupanmu. Aldi pikir ini bayinya. Biarkan dia terus menganggap begitu. Dengan begitu, nggak ada seorangpun yang tersakiti."

Mila merasa lega. Dia merasa seakan beban yang maha berat telah terangkat dari bahunya. "Ok, baiklah, kurasa aku akan melakukannya. Kamu benar, mengatakannya pada Aldi hanya akan menyakitnya."

Mila meremas tangan Bimo. "Thanks, Bimo. Kamu benar-benar sahabatku hari ini. Aku nggak akan melupakannya."

Bimo tersenyum dan dia dapatkan sebuah kecupan di pipi dari sahabatnya yang cantik. Dia ucapkan selamat pada dirinya sendiri dalam hati. Dia telah mainkan hal ini dengan sempurna. Tak akan butuh waktu lama lagi dia akan bisa membenamkan batang penisnya ke dalam vagina nikmat milik Mila lagi.

*****

Pada waktu yang sama, saat Bimo memikirkan cara untuk mengajak Mila naik ke ranjangnya kembali, Aldi sedang berada di kantornya, menyaksikan sebuah video di komputernya. Dia punya dua video Mila sekarang. Yang pertama diambil oleh detektif bayarannya beberapa bulan lalu, video yang berisi adegan Mila dengan Bimo.

Yang kedua, kualitas gambarnya kalah bagus, tapi lebih menarik. Tak diragukan karena dia sendiri yang mengambil gambarnya, hanya beberapa minggu lalu, saat dia bersembunyi di dalam almari di kamar nomer 403 Hotel XXX ketika tunangannya membiarkan seorang pria lain menikmati keindahan tubuhnya. Dia harus bergegas untuk mendahului Mila dan pria tersebut sampai di kamar hotel itu terlebih dahulu. Kualitas video dari handphonenya kurang begitu bagus, tapi dari dalam almari tersebut memberinya sudut pandang yang sempurna ke arah ranjang. Meskipun hanya dari sebuah celah kecil di balik pintu, dia bisa merekam dan mendengar semuanya.

Dia tak bisa menerima Mila bersama pria lain. Dia hampir gila oleh rasa cemburu. Mila bilang cinta padanya, bersedia menikah dengannya. Bagaimana bisa dia menghianatinya? Bagaimana dia bisa membiarkan seorang pria yang tak dikenalnya, merayunya dan bahkan menikmati tubuhnya tepat di hari ulang tahunnya?

Tapi salah satu bagian dirinya begitu mabuk kepayang menyaksikan Mila menyetubuhi pria lain. Dia tak tahu kenapa, dia tak bisa menjelaskan gairah aneh tersebut. Bahkan dia sering saat bekerja, mengunci pintu kantornya dan beronani sambil melihat berulang kali kedua video tersebut di komputernya.

Dia sudah tahu bayi yang dikandung Mila bukanlah miliknya. Dia merasa dihianati. Bahkan yang lebih parah, Mila berusaha menghilangkan jejak dengan mengajaknya bercinta pada malam berikutnya dan membuatnya ejakulasi di dalam. Tak pernah Mila mengijinkannya keluar di dalam, dia selalu memaksanya memakai kondom atau kalau tidak, berejakulasi di luar. Tapi, dia biarkan seorang pria tak dikenal merayu, menyetubuhi dan menyemburkan spermanya di dalam, di periode masa suburnya. Aldi merasa sangat dihianati oleh Mila.

Tapi memikirkan Mila dengan pria tersebut malah membuat batang penis Aldi mengeras lagi. Di saat itu, saat dia birahi, perasaan dihianati serta cemburu semakin menyulut nafsu birahinya, bagaikan bensin yang disiramkan pada kobaran api. Setelah memastikan pintu kantornya terkunci, dia mulai nyalakan video tersebut di komputernya dan dia keluarkan batang penisnya dari dalam celana.

0 komentar:

Posting Komentar