SELINGKUH PENUH RANGSANGAN BAGIAN 4
Beberapa minggu kemudian...
Mila mengocok batang penis Bimo dengan pelan. Dia sudah tak mau lagi mencoba menolak apa yang dibutuhkan tubuhnya. Dia memang telah jatuh cinta pada Aldi, tapi tetap saja dia butuh tubuh kekar dan penis besar milik Bimo. Selalu saja dia merasa bersalah setelahnya, tapi dia tak mampu mencegah dirinya, apalagi dengan Bimo yang selalu saja ‘menyerangnya’ setiap saat.
Dia amati penis dalam genggaman tangannya, terpukai dengan panjang dan besar ukuran batangnya. Terlihat indah dan menakutkan disaat yang bersamaan. Saing besarnya, genggaman tangannya tak bisa menggenggam sepenuhnya dan saking panjangnya membuat dia selalu saja tak percaya bahwa dia bisa memasukkan itu semua dalam tubuhnya. Buah zakarnya begitu kencang dan besar, yang membuatnya masuk akal karena Bimo selalu berejakulasi begitu banyak.
Bimo menyeringai melihat Mila. "Kamu memang sangat sayang sama penisku, ya?"
Mila tak menjawab, sebagai responnya batang penis dalam tangannya tersebut dia masukkan ke dalam mulut.
Tapi Bimo mendorongnya menjauh. "Jawab pertanyaanku, Mil," perintahnya. "Kamu memang sangat cinta sama penis besarku, kan?"
"Kamu tahu aku cinta," Mila merajuk dan dia masukkan lagi ke dalam mulut.
"Gimana rasanya saat Aldi menyetubuhimu, setelah kamu bersamaku? Apa mungkin kamu bisa merasakan penisnya di dalammu?"
Mila melirik Bimo dengan pandangan jengkel, tapi kemudian dia menunggangi Bimo dan mengarahkan ujung penis Bimo ke vaginanya. "Jangan bertingkah brengsek. Setubuhi saja aku."
Bimo dorongkan seluruh batang penisnya memasuki Mila. "Begini?"
"Uhhh, god, ya, begitu," Mila menggeram.
Bimo tarik keluar dan kemudian dengan cepat menusukkan masuk kembali. Bersamaan dengan itu dia pilin puting Mila. " Begini?"
Mila tangkup tangan Bimo dengan tangannya sendiri, mengarahkan cumbuannya. Dia pejamkan mata serapat mungkin saat Bimo semakin mempercepat tusukannya dengan intens. "Lebih keras – dorong – lebih – keras."
"Kalau Aldi melamarmu, apa kamu terima?"
"A – aku rasa iya," Mila berusaha menjawab di sela sengal nafasnya, begitu larut oleh persetubuhan kasar yang diterimanya. Da sudah begitu dekat.
"Tapi aku masih boleh menikmati tubuhmu, kan?"
"Uhhh – aku – aku belum tahu."
Bimo dapat merasakan Mila sudah hampir sampai. Dia mengocoknya tanpa ampun, menggesekkan penis besarnya pada titik g-spot Mila dibarengi dengan memilin puting Mila tiada hentinya. Mila menjerit lepas dan tubuhnya menegang saat dia raih puncak kenikmatannya.
Mila ambruk di dada Bimo. Dia terus mengocok Mila dengan gerakan pelan dan panjang. S***** beberapa menit Mila merasakan birahinya bangkit kembali. "God, dia sungguh hebat," batinnya.
Seakan bisa membaca pikirannya, Bimo bertanya kembali, " Aku masih boleh menikmati tubuhmu, kan?"
Mila merasakan ribuan kupu-kupu menari di perutnya dan terus mengembara ke setiap sendi perasanya. Bimo sungguh membuatnya mabuk kenikmatan. Tapi dia tak menjawabnya, dia tak tahu harus menjawab apa dan tak mau menghianati Aldi lebih jauh lagi.
Bimo tersenyum dalam hati. Mila tak perlu menjawab, dia bisa merasakan dari setiap gerak tubuhnya bahwa dia bisa mendapatkan tubuh Mila kapanpun dia mau. Itu sangat hebat, karena Mila adalah wanita paling seksi yang pernah dia kenal dan dia sangat suka menyetubuhinya, terlebih lagi sekarang ini sejak kehidupan seksnya dengan Sarah mulai terasa membosankan.
*****
Mila tiba di rumah begitu larut malam itu. Aldi sudah menunggunya di atas ranjang.
"Hai, sorry aku terlambat, kerjaan di kantor menahanku lebih lama dari yang kuperkirakan," dustanya. "Aku mau langsung mandi sebentar." Dengan sigap Mila melepas pakaiannya dan langsung menutup pintu kamar mandi.
Aldi turun dari ranjang dan mengambil pakaian Mila dari keranjang pakaian kotor. Dia dekatkan blous tersebut ke hidungnya. Bisa dia cium aroma cologne Bimo di situ. Dia periksa stocking Mila yang tergulung hingga lutut. Lalu dia pungut celana dalam Mila. Jemarinya menelusuri permukaan kain sutera berenda tersebut. Bagian s*****kangannya basah. Dia mengartikannya bahwa Mila membiarkan Bimo keluar di dalam lagi.
Mila tak memakai birth control. Aldi tahu kalau dia lebih memilih untuk mengatur periode masa suburnya. Pil birth control akan membuat berat tubuhnya melonjak naik. Aldi tak keberatan. Selama masa ‘amannya’ Mila memperbolehkannya keluar di dalam. Saat dia dalam periode subur, Aldi memakai kondom, atau lebih seringnya, mengeluarkannya di luar.
Tapi Aldi tahu kalau sekarang bukanlah periode bulan ‘aman’ bagi Mila. Tapi juga bukan periode yang paling subur, tapi ini sangatlah beresiko tinggi. "Apa dia nggak khawatir hamil?" pikirnya.
Aldi merasa cemburu dan sakit. "Bimo punya penis yang lebih besar dibanding aku, dia lebih membuatnya puas," batinnya. "Dia lebih memilihnya daripada aku. Dia biarkan Bimo menidurinya setiap saat dan membiarkannya keluar di dalam. Mungkin dia mau denganku karena Bimo sudah menikahi wanita lain. Mungkin dia berharap Bimo menghamilinya dan dia bisa memakai bayinya agar Bimo meninggalkan Sarah dan menikahinya."
Aldi merasa tercampakkan. Dia mencintai Mila. Dia wanita yang sempurna. Rambut indahnya, wajahnya yang secantik foto model, buah dada yang berukuran tepat, perutnya yang rata dan pantatnya yang demikian kencang serta sepasang kakinya yang menakjubkan. Begitu jenjang dan halus mulus seakan sepasang kaki boneka.
Aldi mencintainya dan tak ingin kehilangannya. Tapi kini Aldi sudah kehilangan dia. Mila lebih memilih Bimo di ranjang dari pada memilihnya.
Dia merasa nafasnya menjadi berat. Untuk sebuah alasan, bayangan Mila bersama Bimo membuatnya terangsang. Dia kesal pada dirinya karena perasaan tersebut. Bagaimana bisa Mila tidur dengan pria lain bisa membuatnya terangsang? Tapi itulah yang terjadi.
Merasa jijik pada dirinya sendiri, Aldi menggapai ke bawah dan mengeluarkan batang penisnya. Dia mulai bermasturbasi. Dia pejamkan mata dan membayangkan adegan dalam DVD Mila dengan Bimo. Dia mengingat Bimo yang mencumbui buah dada Mila dan jarinya yang menelusuri thigh high suteranya. Dia mengingat bagaimana Mila yang membalas lumatan bibir Bimo dengan begitu bernafsu. Dia mengingat bagaiman ujung tumit sepatu Mila yang tertancap di pantat Bimo yang berotot kala dia menggoyangnya. Saat itulah Aldi berejakulasi, menyembur pada selembar tisu.
Dia rebah ke atas ranjang. Perasaannya begitu berkecamuk, cemburu dan perih bercampur dengan rangsangan birahi. Tapi yang dia tahu dan sangat meyakininya, dia mencintai Mila.
Mila naik ke atas ranjang dan meringkuk dalam pelukan Aldi yang menunggunya. "I'm sorry I'm so late," ucapnya lagi.
"That's okay," jawab Aldi. Dia mencium lembut bibir Mila. "I really love you. Do you love me?"
Mila memeluk Aldi semakin erat. "Tentu saja aku sangat mencintai kamu."
Aldi menggapai ke belakang tubuhnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Dia membukanya, mengeluarkan sebuah cincin tunangan berhiaskan permata dari dalamnya.
"Mila, will you marry me?"
0 komentar:
Posting Komentar