SELINGKUH PENUH RANGSANGAN BAGIAN 5
"Coba lihat cincinnya," kata Sarah. Dengan tersenyum, Mila mengangkat tangan kirinya. "Oh my god, berliannya sangat besar!"
Aldi berkata dengan tersenyum, "Ayolah, keretanya sudah datang." Kedua pasangan tersebut naik ke dalam kereta. Mereka sedang dalam perjalanan menuju pesta, yang diadakan untuk merayakan pertunangan Aldi dengan Mila. Mereka memilih naik kereta karena lalu lintas ke arah kota sangat macet.
"Bimo, kamu lihat tadi berlian yang diberikan Aldi untuk Mila?" Sarah bertanya pada suaminya. "Sangat besar!"
Bimo tersenyum dan mengangguk. Tapi dia membatin dalam hati, "Aku tahu apa yang diharapkan Mila berukuran besar." Sembari memikirkan itu, mata Bimo menatap tajam pada mata Mila dan dia jadi merona. Bimo tersenyum, menyadari mereka memikirkan hal yang sama.
Seiring penumpang yang semakin memenuhi kereta, Mila dan Bimo terpisah dengan Aldi dan Sarah. Mereka sebenarnya terpisah hanya beberapa meter saja, tapi terhalang oleh orang-orang disekelilingnya. Mila dan Aldi masih bisa saling melihat wajah, tapi tak lebih dari itu. Bimo menggapai ke bawah dan menyentuh cincin pertunangan Mila. "Oh, baby, ini sangat besar," godanya. "Apa ini bisa membuatmu puas?"
Mila hampir mulai memelototi Bimo, tapi dia lalu ingat kalau Aldi bisa melihatnya dan dia tak mau nanti harus menjelaskan kenapa dia marah pada Bimo. Dia paksakan memasang sebuah senyuman di wajahnya dan berkata, "Diam, brengsek. Apa nggak bisa kamu merasa bahagia untukku? Aku akan menikah."
Tangan Bimo bergerak ke paha Mila. Di dalam kereta sangat ramai beredesak-desakan, tak seorangpun bisa melihat apa yang dia lakukan. Dia susuri garter strap Mila dari luar roknya. "Oh, aku senang, sangat senang," kata Bimo dengan senyum iblisnya. "Sekarang aku bisa tidur dengan tunangan pria lain dan sebentar lagi jadi isteri pria itu."
"Itu nggak mungkin terjadi," jawab Mila dan dia coba tepiskan tangan Bimo menjauh. Tapi Bimo tetap memaksa dan Mila tak bisa melakukan tindakan yang akan memancing kecurigaan Aldi dan Sarah. Bimo menyadari kebingungannya tersebut dan semakin menekan kesempatannya. Dia gerakkan tangannya ke dalam rok mini Mila dan ujung jarinya mulai membuat gerakan melingkar di paha Mila. Jemari Bimo terus bergerak naik hingga dapat dia sentuh permukaan kulit Mila di atas pangkal stockingnya dan hampir saja Mila terlonjak kaget saat jemari Bimo menyerempet celana dalamnya.
"Kamu sudah basah," komentarnya dan Mila tahu bahwa Bimo memang benar. Mila telah berhasil menjauh dari Bimo sejak bertunangan. Dia sangat ingin setia pada Aldi. Tapi itu suara hatinya. Tubuhnya memegang kendali sekarang ini dan merindukan untuk disetubuhi dengan kasar oleh sebatang penis yang berukuran besar. Dia sungguh mencintai Aldi, tapi Aldi tak mampu memberi apa yang diinginkan tubuhnya.
"Jangan goda aku," dia memohon.
Bimo masih menyeringai, jarinya beringsut memasuki celana dalam Mila dan menyentuh kelentitnya. "Oh, aku minta maaf, apa aku menggodamu?"
"Bajingan kamu!" umpat Mila dengan marah. Tak lagi peduli apakah Aldi dan Sarah mungkin melihatnya, dengan kasar dia dorong Bimo menjauh. Untung saja, kereta dalam keadaan penuh hingga Aldi dan Sarah tak melihatnya. Dalam sisa perjalanan tersebut, Mila menjaga jarak dari Bimo, namun godaan Bimo tadi telah membuat rasa gatal dalam vaginanya serasa makin tak tertahankan. Mila berusaha mengacuhkan itu, dia berjanji pada dirinya bahwa di pesta nanti dia akan menjauh dari Bimo.
Saat akhirnya kereta tersebut berhenti, Aldi langsung mendekati tunangan barunya dan menanyakan apakah semuanya baik-baik saja. Mila meyakinkannya bahwa semuanya baik saja. Aldi melirik ke arah dada Mila. Putingnya begitu mencuat keras hingga hampir terlihat samar dari balik blousenya. Rasa marah menggelegak dalam diri Aldi begitu dia menyadari apa yang sudah diperbuat Bimo. Dia merasa dilecehkan, meskipun, dia juga merasakan s*****kangannya jadi sesak membayangkan apa yang dilakukan Bimo terhadap tunangannya.
Disepanjang pesta tersebut, Aldi terus merasakan birahinya membara dan langsung saja dia seret Mila ke dalam kamar begitu mereka tiba di rumah. Tapi karena terlalu tinggi birahinya, hingga hanya dalam beberapa sodokan saja dia sudah lansung ejakulasi.
Aldi gulingkan tubuhnya dari atas Mila dan langsung terlelap. Percintaan mereka semakin memburuk dibandingkan biasanya, semakin membuat birahi Mila tak terpuaskan. Dengan jemari yang gemetar, tangannya bergerak ke bawah tubuhnya dan mulai mencari pelepasan sendiri. Dia butuh pelepasan, meskipun tahu itu tidaklah cukup.
0 komentar:
Posting Komentar