SELINGKUH PENUH RANGSANGAN BAGIAN 7
"Selamat malam, nyonya," sambut si penjaga pintu saat membukakan pintu. Dapat Mila rasakan dia mencuri lihat ke dalam gaunnya saat dia berjalan masuk ke dalam resto. Dia kenakan sebuah gaun seksi untuk Aldi karena mereka tengah merayakan ulang tahun Aldi. Sebuah gaun yang pendek dan sangat pas dengan lekuk tubuhnya, serta bagian depan yang berpotongan rendah, mengekspos bukit buah dadanya yang kecil namun kencang.
Suasananya sangat ramai di dalam, tapi lautan manusia tersebut seakan membelah saat dia datang. Mila merasa semua mata pria tertuju padanya. Dia merasa merona jengah.Perhatian dari lawan jenis selalu bisa membangkitkan gairahnya, tapi denyutan gatal di s*****kangannya tidaklah dia harapkan. Dia tak lagi bertemu Bimo semenjak pesta lalu dan terlebih lagi, belum merasakan batang penis berukuran besar lagi semenjak sebelum dia tunangan. Dia telah berhasil untuk setia, tapi juga jadi frustrasi secara seksual. Apalagi sejak kejadian di sex store, hal terakhir yang dia mau adalah stimulasi seksual lebih banyak lagi yang menambah rasa frustrasinya.
Mila bertanya pada pelayan apakah Aldi sudah datang, tapi ternyata belum. Si pelayan menyaranan untuk menunggu saja di bar.
Bar tersebut begitu ramai dan penuh asap rokok, tapi beberapa pria menawarkan tempat duduk pada Mila. Dengan santun Mila menolaknya dan memilih untuk berdiri diantara keramaian. Biarpun begitu banyak orang yang mengantri minuman, sang bartender tiba-tiba saja muncul dan menanyakan minuman yang dia pesan. Sang bartender mencoba untuk mengobrol dengan Mila, tapi Mila menepisnya dengan tersenyum. Mila baru mengambil uang dari dalam dompetnya, tapi seorang pria menahan tangannya dan menyodorkan selembar uang pada sang bartender. Dengan ekspresi kecewa, sang bartender mengambil uang tersebut.
Mila menoleh ke belakang dan merasa kecewa saat dia melihat ternyata itu bukanlah Aldi.
"Please, biarkan aku membelikanmu minuman," ucap si pria dengan logat asing. "Namaku Jacques."
"Terima kasih, Jacques, tapi nggak usah."
"Please, aku memaksa."
"Well... baiklah," akhirnya Mila menyerah. Suasana bar yang begitu ramainya hingga membuat keduanya nyaris saling bersentuhan. Dengan rok pendeknya, Mila semakin merasakan kehadiran sosok si pria. Jacques memiliki bahu yang lebar dan ketampanan yang sangat khas lelaki, dengan sepasang mata yang memiliki sorot tajam dan misterius. Postur tubuhnya tinggi besar dan tubuhnya yang tinggi besar terlihat kekar di balik pakaian mahal yang dia pakai. Mata tajamnya menatapnya dengan siratan hasrat yang begitu gamblang dan denyutan di s*****kangan Mila jadi semakin intens. Dimana gerangan Aldi?
"Apa kamu sendiri?"
"Saat ini," dengan ragu Mila menjawab saat dia teguk minumannya. "Aku menunggu tunanganku."
Jacques memegang tangan Mila dengan mantap. "Ah, cincin tunangan yang indah. Bisa kulihat tunanganmu sangat mencintaimu. Tapi sampai dia datang, boleh kan aku menemanimu?"
Mila terpukau oleh karisma Jacques. Khas gentlement pria Perancis dengan logatnya yang eksotis. Mila mengangguk mengiyakan dan dia teguk minumannya kembali. Jacques tidak melepaskan genggamannya. Bahkan di elus tangan Mila. Dengan tersipu, Mila menarik tangannya.
"Kamu belum sebutkan siapa namamu."
"Mila."
"Mila. Panggilan dari Kamila, benar kan? Sebuah nama yang mempunyai arti sempurna, sesempurna orangnya. Sungguh sebuah kehormatan berkenalan dengan wanita secantikmu, Mila."
Kembali Mila tersipu. Dia terkesima dengan sopan santun Jacques dan dia suka mendengar aksennya. "So, apa pekerjaanmu Jacques?"
"Aku baru tiba hari ini. Aku seorang buyer Neiman Marcus. Aku keliling dunia untuk memesan busana wanita yang berkualitas bagus untuk dijual di toko."
"Wow," jawab Mila, benar-benar terkesan. "Aku nggak pernah bayangkan ternyata yang di bagian pembelian busana wanita di Neiman Marcus itu seorang pria."
"Aku merasa punya mata yang bagus untuk sebuah kualitas. Contohnya, gaun yang kamu pakai ini sangat indah dan punya kualitas yang tinggi." Saat mengucapkannya, jemari Jacques menyusuri spaghetti strap di bahu telanjang Mila. Sentuhan Jacques membuat Mila merinding.
"Permisi," Mila mendengar, saat seorang pria mencoba mencari jalan untuk mendekat ke bar. Seakan sedang berdansa, dengan lembut lengan Jacques melingkari tubuh Mila dan menariknya ke dalam pelukannya untuk memberi ruang bagi si pria. Tubuh mereka berhimpitan rapat dan tangan Jacques berada di punggung Mila. Detik berikutnya, dia mengelus punggung Mila dengan lembut. Mata mereka saling bertemu dan Mila tersadar jemari Jacques yang menari dengan mudahnya memberitahunya bahwa dia tidak memakai bra.
Seorang pria lagi mendesak menuju bar dan Mila mendapati dirinya bergerak lebih dekat lagi pada Jacques hingga mereka hampir berpelukan. Tangannya di dada Jacques dan saat dia mendongak, bibir mereka hampir bersentuhan. "Bar ini sangat ramah ya? Menarik orang-orang berkumpul semua di sini," kelakar Jacques.
Mereka tertawa berbarengan, mencairkan ketegangan saat itu. Sulit jadinya mengobrol jika sedekat itu, jadi Mila hanya diam saja serapat itu dengan tubuh Jacques yang tiada henti mengelus punggungnya. Dia anggap elusan Jacques itu masih wajar saja dan dia tak mau bikin keributan karena kelihatannya Jacques seorang pria yang baik. Dia melirik sekelilingnya dan dia lihat banyak mata pria yang sedang memandang ke padanya. Mungkin mereka tengah membatin betapa gampang dirinya terlihat. Pikiran tersebut membuatnya merinding oleh letupan gairah.
Bar itu semakin bertambah ramai dan tiba-tiba Mila merasakan sebuah tangan di belakangnya dan dia tersadar ada seorang pria yang tengah menggerayanginya. Berada di antara himpitan Jacques dan pria di belakangnya membuat Mila tak dapat bergerak menjauh. Pria di belakangnya meremas pantatnya. Mila tak mampu berbuat apapun karena dia tak ingin membuat kegaduhan. Tangan pria itu bergerak ke bawah dan Mila merasakan tangan itu mulai bergerak di balik roknya. Dia mendorong ke arah Jacques, coba untuk melepaskan diri dan dia dapat merasakan sebuah benda keras dan besar menekan perutnya. Dia sadar dalam usahanya melepaskan diri dari pria mesum di belakangnya, dia jadi bergesekan dengan penis Jacques, tapi dia tak punya pilihan lain. Mila sama sekali tak punya pilihan lebih bagus lainnya. Maka begitulah keadaannya, Jacques mengelus punggungnya, seorang pria lainnya merabai pantatnya dan mencoba masuk ke dalam roknya dan dia jadi menggesek ereksi Jacques.
Dan birahi Mila benar-benar bergejolak karena itu semua. Dia merasa begitu nakal. Pria di belakangnya harus menghentikan ‘kerajinan tangannya’ untuk mengambil minuman yang dipesannya, tapi ketika dia berbalik untuk meninggalkan bar itu, mengakibatkan Mila semakin terdorong rapat ke dalam pelukan Jacques dan dia merasakan tangan Jacques bergeser ke sisi tubuhnya, hampir menyentuh buah dadanya. Mila tak bisa bergerak karena ada seorang pria lain lagi yang tiba-tiba mendekat ke bar. Dia harus menahan nafas saat Jemari Jacques bergerak menyentuh tepian buah dadanya. Detik berikutnya Jacques mulai mengelusi tepian buah dadanya. Gaun yang dia pakai begitu ketat dan tipis hingga sentuhan itu sekan langsung menyentuh permukaan kulitnya saja. Saat melakukan itu, tatapan mata Jacques tak sedetikpun lepas dari mata Mila, menantangnya untuk menolak. Untuk suatu sebab, saat itu, terkungkung oleh karisma pesona Jacque yang begitu intens, Mila tak mampu memprotesnya.
Akhirnya kerumunan orangpun mulai berkurang dan Mila bergerak menjauh dari pelukan Jacques. Jantung Mila berdegup kencang. Putingnya terasa keras hingga terlihat jelas mencuat dari balik gaun tipisnya. Dia teguk sisa minumannya dan dengan cepat Jacques memesankannya segelas lagi. Milapun meneguknya kembali dengan cepat dan kemudian dia minta diri. Dia menuju ke kamar kecil dan dia juga tergoda untuk m*****kah ke pintu keluar.
Di dalam kamar kecil, dia bersandar ke dinding dan menarik nafas panjang. Apa yang kulakukan? Apa aku begitu gampangan? Aku sudah tunangan. Ayolah, kuatkan hatimu! Tapi, dia sudah sangat terangsang. Putingnya terasa sangat sensitif dan s*****kangannya sudah basah kuyup.
Dia sudah memutuskan tak akan lari menghindar, dia tak mungkin lari setiap kali ada pria yang coba mengodanya. Dia hanya perlu kendalikan dirinya dan mengatasi situasi tersebut. Lagipula, Aldi akan tiba sebentar lagi. Dia rapikan gaunnya, dengan tangan yang masih sedikit gemetaran, dia ambil lipstiknya.
Jacques masih menunggu di tempatnya berada tadi dan bahkan dia sudah menyediakan sebuah kursi untuknya. Di atas meja bar, sudah menanti segelas minuman baru untuknya.
Mila berkata kalau dia ingin berdiri saja, tapi Jacques mendesaknya. Akhirnya Mila menerima karena sepatunya sudah terasa agak menyakitkan, tapi dia khawatir bagaimana nanti posisi duduknya di atas bar stool tinggi itu. Dia turunkan ujung gaunnya, tapi kembali tersingkap setiap kali dia silangkan kaki. Jacque dengan terang-terangan menatap hal itu. Kemudian Jacques perhatikan pangkal stocking yang dipakai Mila, yang mengintip dari balik ujung roknya yang tersingkap. Jacque membungkuk ke depan dan dia letakkan tangannya di paha Mila saat mereka berbincang.
Di tengah obrolan mereka, Jacques gerakkan tangannya naik sedikit demi sedikit hingga berhenti di ujung rok Mila. Jemarinya mulai bergerak pelan di pangkal stocking itu. Mila menatap tangan Jacques di atas pahanya, lalu kembali menatap Jacques. Dia tak tahu kenapa dia tak menghentikannya. "Apa kamu bertugas untuk memesan lingerie juga?" akhirnya dia bertanya, sedikit ekspresi marah di wajahnya.
Jacques tersenyum. "Aku ahli di semua busana berkualitas bagus, termasuk lingerie. Aku akan senang melihat apa lagi yang kamu pakai sekarang."
Mila kaget dengan kegamblangannya. Jacques mengingatkannya pada Bimo. Keduanya sangat berani dan blak-blakan. Mereka berbeda juga. Bimo sifatnya kasar dan arogan, Jacques lembut dan ramah. Tapi ujungnya, mereka serupa. Mereka mengambil apa yang mereka mau. Mereka tak meminta. Mereka mengambilnya begitu saja.
Mila membayangkan bagaimana rasanya tidur dengan Jacques. Apakah sikap halusnya itu akan membuatnya berbeda dengan Bimo? Dia membayangkan bagaimana jika, mendengar Jacques menyebutnya binal dan jalang dengan aksen Perancisnya yang romantis. Bayangan tabu tersebut membuatnya merinding.
"Kamu kedinginan?" tanya Jacques, tangannya menyentuh bahu Mila.
"Tidak," jawab Mila cepat, dia merasa malu. "Cuma memikirkan sesuatu saja."
"Baguslah," jawab Jacques sembari mengelus bahu telanjang Mila. "Kalau kamu kedinginan, aku akan merasa terhormat menawarkan jasku, tapi akan membuatku kecewa kalau kamu menutupi bahumu yang indah."
Mila tersipu. "Ingat, aku sudah bilang dan tunanganku aku tiba sebentar lagi." Untuk menguatkan ucapannya, dia angkat tangan kirinya, menunjukkan cincin tun****nya pada Jacques.
Jacques mendekat pada Mila, pura-pura mengamati cincin tersebut. Mila merasakan ereksi Jacques menekan ke pahanya.
Puluhan kupu-kupu serasa terbang menggelitik dalam perutnya. Dia semakin kuyup. Dia berusaha meraih gelas minumannya dan langsung dia teguk lagi, hanya itu yang mampu dia lakukan untuk untuk menenangkan diri, menutupi gemetar tubuhnya. "Kamu benar-benar percaya diri, ya?"
"Aku cuma mengamati cincinmu." Jacques kembali memegangi tangan Mila, berlagak lugu. "Seperti yang kubilang, ini sangat indah." Kemudian dengan lembut namun mantap, dia bimbing tangan Mila ke pahanya sendiri dan kemudian Jacques menata posisi duduknya hingga ereksi penisnya bersentuhan dengan tangan Mila. "Ukurannya besar," ucapnya dengan tersenyum.
Mila tersipu saat tangannya menyentuh s*****kangan Jacques. Terasa besar dan begitu keras. Jantungnya berdegup liar dan nafasnya terasa berat. "Kamu nakal," ucapnya, memalingkan muka untuk menghindari tatapan tajan mata Jacques.
Jacques mengangkat kedua tangannya berlagak menyerah. "My dear Mila, ucapanmu membuatku sedih. Biarkan aku meluruskan, aku sedang membicarakan tentang berlianmu."
Mila tertawa, dengan cepat dia tarik tangannya dari s*****kangan Jacques. Tubuhnya sedikit rileks. Jacques mengambil kesempatan itu dan kembali meletakkan tangannya di lutut Mila, dengan sigap bergerak ke dalam roknya. Nafas Mila tercekat saat dia merasakan tangan Jacques bergerak semakin naik. Dia menggigil saat jemari Jacques menyentuh permukaan kulitnya di atas stocking. Jemarinya sangat dekat pada vaginanya dan tak dia sangsikan, Jacques bisa merasakan kehangatan yang basah memancar dari pangkal pahanya. Puting buah dadanya semakin mencuat jelas dari balik gaunnya. Dia tak punya daya untuk menepiskan tangan Jacques.
Oh my God, apa yang kulakukan? Batin Mila, merasakan jemari Jacques semakin bergerak naik di balik roknya. Dia rapatkan kedua pahanya untuk hentikan perbuatannya. Jacques tersenyum dan membungkuk ke depan, berbisik di telinga Mila, "Ikutlah denganku, kantorku di dekat sini." Undangannya yang terus terang ditambah nafas hangatnya yang menghembus telinganya mengirimkan rasa dingin hingga ke sumsum tulang Mila.
Tolak ajakannya, dia perintahkan pada dirinya sendiri. Tampar mukanya dan jawab tidak. Tapi sebaliknya, dia dapati dirinya menjawab dengan lemah, "Tunanganku akan datang sebentar lagi."
Seakan diberi isyarat, handphonenya berdering. Akhirnya Aldi menelpon. Handphonenya ada di dalam dompetnya dan dompetnya ada di bawah. Dia membungkuk untuk mengambilnya dan saat melakukan itu dia harus meluruskan kakinya. Mila hampir saja menjerit saat tangan Jacques bergerak semakin naik dalam roknya. Posisi mereka sangat berdekatan di tengah keramaian bar tersebut hingga mustahil ada seseorang yang menyaksikan apa yang sedang dilakukan Jacques. Mila langsung membuka handphonenya dan berkata, "Hi, Aldi?" Jemari Jacques berhasil menyentuh vagina telanjangnya. Dia tak memakai celana dalam sebab gaunnya tersebut sangat ketat dan karena sekarang adalah ulang tahun Aldi dan Mila tahu betul kalau Aldi akan sangat terangsang jika tahu dia tak memakai celana dalam.
Dia lihat Jacques tersenyum. Dia rasakan jemari Jacques menjelajahi sepanjang bibir vagina tak berambutnya. Dia coba merapatkan kedua pahanya, tapi Jacques tak bergeming. Dia tak mau membuat Aldi curiga di seberang telpon, jadi dia biarkan saja seorang pria lain memainkan jemarinya di s*****kangannya saat dia sedang bicara dengan tunangannya di telpon.
"Aku di bar," ucapnya, saat dia rasakan jemari Jacques meluncur di antara bibir vaginanya.
"Maksudku, uhhh" ... Mila gigit bibirnya untuk meredam suara desahannya saat Jacques mendorongkan satu jarinya masuk ... "Maksudku, aku ada di bar di dalam resto."
"Nggak, aku baik-baik saja, aku ahhh god" ... Mila mengerang tak tertahankan ketika Jacques menemukan kelentitnya ... "Kamu di, uhhh, kamu" ...Mila cengkeram lengan Jacques, coba menghentikannya... "Kamu di mana?"
Jacques tersenyum nakal melihat kondisi dan ketidak nyamanan Mila. Dia tusukkan jari lainnya ke dalam dan kemudian dia mulai mengocok sembari ibu jarinya menggelitik kelentit Mila. "Ahhh... maksudku... uhhh... itu" ...Mila kesulitan berkata saat Jacques terus mengocoknya... "Itu sayang sekali."
"Apa... ahhh... apa?" tanya Mila, sulit rasanya konsentrasi di bawah serangan. Dia pejamkan matanya raat, mencoba mengacuhkan apa yang dilakukan Jacques terhadapanya, tapi tak berhasil. "Hotel... ahhh... apa? Hotel XXX?" ucapnya di sela sengal nafasnya. "Kamar... uhhh... 403?"
Dia dorong lengan Jacques sekuatnya tapi tetap saja dia tak mau berhenti. God, dia akan membuatku orgasme! Mila sadar kalau dia harus segera tutup handphonenya. "Ok, aku akan ke sana, bye," semburnya dan langsung dia tutup handphonenya. Tak mungkin dia biarkan seorang pria asing membuatnya orgasme di tengah bar yang ramai. Dia rapatkan pahanya semampunya dan kembali dia dorong Jacques. "Please stop," rengeknya. "Please."
Jacques mengalah dan dia tarik tangannya. Dia usap jari basahnya dengan selembar serbet. Dada Mila berdebar keras. Dia butuh beberapa menit untuk mengatur nafasnya.
"Itu sangat jahat," akhirnya dia bisa berucap.
Jacques tersenyum, tapi tak menjawabnya. Sebaliknya, dia bertanya, "Aku artikan tun****mu tak bisa datang kemari?"
Mila gelengkan kepala. "Sesuatu terjadi di kantor. Dia harus terbang ke luar kota."
Senyuman Jacques semakin melebar. "Jadi, dia tak akan pulang sampai besok."
Mila tak menjawab. Jantungnya berdegup kencang di dalam dadanya. Jacques hampir membuatnya orgasme. Dia tadi sudah begitu dekat saat dia paksa Jacques berhenti. Tubuhnya tebakar hebat oleh birahi.
"Apa maksud tunanganmu, soal hotel XXX?"
Mila merasa berat melanjutkan obrolan tersebut. "Hari ini ulang tahunnya," akhirnya dia bisa berkata.
Wajah Jacques berbinar mengerti. "Ah. I see. Dan tun****mu sudah booking kamar di hotel XXX, lalu setelah dinner, kamu bisa membantunya merayakan ulang tahunnya? Kamar 403?"
Mila mengangguk, menghindari tatapan Jacques. Dia tahu ke mana arahnya ini dan dia takut dengan apa yang mungkin dia lakukan. "lari!" dia perintahkan dirinya. "Kamu nggak boleh lakukan ini! Ini ulang tahun Aldi, kamu nggak boleh lakukan!"
"Dan dia mengabarkan ini padamu, untuk apa? Untuk membatalkan bookingannya?"
Mila ragu, tapi akhirnya dia gelengkan kepalanya. "Sudah terlambat dibatalkan. Dia memintaku untuk mengambil sesuatu yang ketinggalan di kamar itu."
Jacques menyeringai. Tangannya kembali memegang lutut Mila. "Sangat sayang kalau menyia-nyiakan bookingan kamar di hotel XXX."
Mila tutupi tangan Jacques dengan tangannya, coba hentikan serangan Jacques. "Please," dia memohon dengan sisakekuatannya. Dia tak punya daya untuk mencegah ini terjadi, tapi mungkin saja Jacques akan melakukan hal yang benar. "Aku sudah tunangan. Kami akan menikah bulan depan."
"Mila, aku tak pernah punya maksud memaksamu, ataupun melakukan sesuatu yang tak kamu mau," ucapnya dengan lembut, menenangkan. Dia tawarkan tangannya. "Aku hanya menawarkan untuk menemanimu ke kamar hotel itu. Aku akan benci kalau kamu ditemani pria lain manapun di bar ini, siapapun saja yang sudah menatapmu dengan lapar."
Mila tak mampu bergerak. Tentu saja dia tak percaya Jacques, tapi dia sungguh bingung. Tubuhnya terbakar hebat. Dia sungguh membutuhkannya. Beberapa saat berlalu. Akhirnya Mila dapati dirinya turun dari atas bar stool. Tapi ini serasa di luar kesadarannya. Rasanya bukan dirinya yang turun dari bar stool, itu orang lain, seseorang lain yang mirip dirinya. Bagaikan roh yang melayang di antara kerumunan orang, dia lihat dirinya memegangi lengan Jacques. Dia saksikan dirinya dibimbing keluar oleh Jacques dari bar tersebut, dengan canggung menoleh ke sekitarnya dan berharap tak dia lihat seseorang yang dia kenal.
Tapi luput dari pandangannya di ruangan tersebut, tak pernah dia lihat tunangannya, Aldi bersembunyi di tengah kerumunan orang, menyaksikan semua gerakannya.
0 komentar:
Posting Komentar