Selingkuh Penuh Rangsangan Bagian 2


"Selingkuh itu menyenangkan." ucapan Bimo terus terngiang di dalam benak Mila saat dia duduk di depan Aldi di restoran tersebut.

Apa itu benar? Di sepanjang malam itu, dia terus memikirkan ucapan Bimo tersebut. Saat Aldi mengecup pipinya, dia berpikir, "Beberapa jam tadi, wajahku penuh sperma Bimo." Saat Aldi menggenggam tangannya, dia membatin, "Tadi tangan ini kugunakan untuk menggenggam batang penis Bimo."

Terasa menyenangkan saat memikirkan itu semua. Dia tahu itu salah. Itu terlarang. Tapi itu hal tabu yang menyenangkan. Dia raih dua kali orgasme bersama Bimo hanya beberapa jam sebelumnya, tapi hanya memikirkan itu semua bisa membuat birahinya menggelegak.

Seusai dinner keduanya pergi ke pertunjukan teater. Mila menyilangkan kedua kakinya dan tangan Aldi berada di paha Mila, seperti yang selalu dia lakukan. Tangan Aldi mulai bergerak meraba paha Mila dan ujung jarinya berhenti tepat di bawah gaun Mila, tapi karena sekarang di sekeliling mereka ada orang banyak, Aldi tak meneruskannya. Tiada hentinya Mila terus berpikir, "Kalau Aldi menyentuh vaginaku sekarang, dia akan merasakan sperma Bimo."

Pikiran nakal tersebut membuat Mila bergidik. "Kamu nggak apa-apa?" tanya Aldi khawatir. "Ya," Mila coba menjawab dengan nada sewajarnya. "Hanya agak dingin rasanya di sini."

Harusnya Bimo tidak keluar di dalam. Terkadang dia bisa jadi begitu menyebalkan. Tapi kekurangajarannya itu juga membuatnya terangsang. Hubungan seks mereka sebenarnya tak bisa dikatakan mesra. Bimo tak pernah berlaku lembut atau penuh perhatian. Kala mereka berhubungan badan, dia memperlakukan Mila sebagai perempuan jalang. Tapi itulah sebabnya Mila sangat suka berhubungan seks dengannya. Dia suka diperlakukan kasar dan birahinya selalu jadi lebih berkobar saat pria memegang kendali seutuhnya. Dengan rambut hitam legam, wajah muda yang manis dan segar, Mila terlihat begitu lugu dan seakan tanpa dosa. Tapi sesungguhnya dia suka bertingkah nakal, liar. Dia suka dimanupulasi, diperlakukan sebagai wanita jalang dan Bimo memberikan itu semua. Tapi wajah manis, lugu dan tanpa dosa dengan tubuh indah menggiurkan menyamarkan itu semua.

*****

Beberapa minggu kemudian, Mila dan Aldi tengah sarapan saat telpon berdering.

"Hallo?" jawab Mila.

"Hai, ini aku. Sarah nggak bisa datang akhir pekan ini. Kamu bisa kemari?"

Mila melirik ke arah Aldi, yang sedang baca koran. Hari ini mereka sudah berencana untuk menghabiskan waktu berdua. "Aku nggak tahu," jawabnya ragu.

"Bilang ke Aldi aku butuh bantuanmu untuk belanja cari hadiah untuk ulang tahun Sarah."

Mila merasa bingung. Dia sudah menantikan untuk bersama Aldi hari ini, dia sungguh menyukainya. Mungkin dia benar-benar sudah jatuh cinta. Tapi sekarang sudah lebih dari sebulan sejak terakhir dia bertemu Bimo. Biasanya mereka melampiaskan birahi setidaknya sekali seminggu. Itu sudah jadi rutinitas mereka sejak masih kuliah. Mila menyebut itu " resep Bimo." Bimo adalah the best lover yang pernah dia dapat dan bahkan saat dia sedang menjalin hubungan dengan pria lain. Seperti sekarang ini, saat dia bersama Aldi, dia masih mendambakan apa yang bisa Bimo berikan untuknya. Tapi belum pernah dia menjalin hubungan seserius sekarang, seperti yang tengah dijalinnya bersama Aldi.

Namun, tetap saja tubuhnya punya keinginan untuk dipenuhi...

Dia menoleh ke arah Aldi, ada sedikit rasa bersalah. "Honey?" ada rasa ragu untuk memulai. "Bimo tanya, apa aku bisa membantunya hari ini. Sarah ulang tahun minggu depan dan dia butuh bantuan untuk cari hadiah."

Aldi terlihat kecewa. "Bukannya kita punya rencana sendiri hari ini. Baca koran, makan siang di luar, nonton film. Aku sudah menantikannya."

"Aku tahu, aku juga honey. Kuusahakan pulang saat dinner." Dia julurkan kakinya di bawah meja dan perlahan menekankan ujung jari kakinya ke s*****kangan Aldi. "Kita habiskan malam nanti berdua." Aldi merasakan s*****kangannya menyesak. Dia merasa kecewa, tapi dia tak mau jadi seperti salah satu pria yang membatasi kekasihnya dalam berteman dengan pria lain. "Baiklah, pergilah."

Tersenyum lega, Mila membungkuk ke depan dan mencium Aldi. Lalu dia raih pesawat telpon. "Oke, kita ketemu di mall satu jam lagi."

"Bagus," jawab Bimo. Dia jadi ereksi sekarang. Bimo berbisik di telpon. "Mila, ingat saat kamu cerita tentang bustier yang dibelikan Aldi di hari Valentine? Nanti pakai, oke?"

Alis Mila berkerut. "Kita lihat saja nanti," jawabnya asal.

Sesudah menutup telpon, Mila mencium Aldi sekali lagi. "Terima kasih sudah begitu pengertian. Bimo sangat butuh bantuan, dia ingin membuat Sarah terkesan. Aku janji akan menebusnya nanti malam."

Tangan Aldi menggapai tubuh Mila dan menariknya dalam pelukannya. Tangannya menuju pantat Mila yang sekal dan kencang. "Gimana kalau quickie? Masih satu jam lagi."

Mila tertawa geli. "Aku mau, tapi aku harus berdandan." Dia berontak lepas dari rengkuhan Aldi dan lari menuju kamar. "Aku harus bergegas, kamu sudah tahu kan, berapa lama aku dandan," ucapnya dari balik bahu.

Mila merasa bingung. Apa yang akan dia pakai? Dia tak mau Aldi melihat gaunnya terlalu seksi untuk acara belanja dengan Bimo nanti. Biasanya dia hanya memkai jeans dan atasan, dengan lingerie seksi di dalamnya. Tapi Bimo ingin dia memakai bustier. Dia tahu kenapa. Bimo kadang juga bertingkah mesum. Tapi itu artinya dia harus memakai sebuah rok.

Akhirnya, dia putuskan untuk memakai sebuah blus sutera berwarna putih tulang dan dipasangkan dengan sebuah rok berlipat warna hitam yang hanya sampai di atas lututnya. Di dalamnya dia memakai bra model penuh dan sebuah celana dalam serta panty hose berwarna hitam. Dia ikat rambutnya ke atas dan memberi sapuan makeup tipis di wajahnya. Dia komplitkan penampilannya dengan sepasang sepatu model ballerina berwarna hitam.

Dia tak bisa memakai bustier tersebut sekarang. Aldi pasti akan memberinya sebuah pelukan sebelum dia pergi dan dia akan bisa merasakan bustier tersebut. Lalu dia harus memberi alasan kenapa memakai lingerie seksi hadiah Valentine Aldi tersebut. Dia mencari di dalam lemari pakaiannya, dia temukan sebuah tas untuk belanja. Pertama, dia masukkan bustier tersebut dan beberapa barang, kemudian dia menutupinya dengan sebuah gaun yang baru saja dia beli. Dia bercermin. Terlihat cantik, tapi nggak seksi. Paling tidak, terlalu seksi.

Dengan membawa tas dia keluar dari kamar. "Kamu terlihat cantik," Aldi langsung berkomentar dan merengkuhnya dalam pelukannya lalu menciumnya. "Tapi memang kamu selalu terlihat cantik." Semakin merapat, dia berkata, "Meskipun, dandananmu sedikit berlebihan."

Mila tersenyum lugu dan menunjuk tas belanja yang dia bawa. "Aku tahu, tapi aku punya rencana untuk menukar baju yang baru kubeli kemarin. Itu, yang kamu bilang nggak begitu suka? Makanya aku pakai ini biar bisa gampang mencoba beberapa baju lainnya." Kumohon jangan periksa isi tasku, doa Mila.

Aldi menariknya ke dalam pelukannya lagi dan tangannya menggapai tepian rok Mila. "Aku tak masalah, kamu tahu aku suka melihat paha indahmu." Tangan Aldi menyusup ke balik rok dan mengelus paha Mila, dari lutut ke pahanya berulang kali. "Lho, nggak pakai stocking?" suaranya terdengar kecewa. "Kamu tahu kalau aku nggak suka kamu pakai pantyhose."

Mila tertawa dan dengan bercanda dia dorong Aldi menjauh. "Aku cuma pergi dengan Bimo, konyol ah, dan thigh high mahal harganya. Aku nggak mau menyia-nyiakan itu hanya untuknya. Aku harus pergi sekarang. Sampai ketemu lagi nanyi, ok? Dan nanti aku akan pakai stocking hanya untuk kamu!"

Dengan menyeringai lebar, Aldi berkata, "Oke, aku bisa tunggu," dan dia memberikan ciuman perpisahan untuk kekasihnya.

*****

Sebelum sampai di apartemen Bimo, Mila singgah dulu di sebuah pom bensin. Dia sahut tasnya dan bergegas menuju ke kamar kecil . Dia terburu-buru, karena dia sadar kalau dia hanya punya waktu beberapa jam saja bersama Bimo.

Mila lepas semua pakaiannya hingga tubuhnya hanya berbalut sebuah handuk saja di dalam kamar kecil tersebut. Dia semprotkan parfum di belakang telinganya, di antara belahan dadanya dan terakhir di antara s*****kangannya. Dia cari di dalam tasnya, dikeluarkannya bustier tersebut dan langsung dia kenakan. Terlihat begitu ketat membungkus tubuh rampingnya dan membuat buah dadanya setingkat lebih besar dari ukuran sebenarnya. Tak heran Aldi selalu suka saat dia memakainya. Kembali dia mencari di dalam tasnya dan mengeluarkan sepasang stocking baru berwarna hitam. Dengan cepat dia buka bungkusnya dan mengeluarkan stocking berbahan sutera tersebut dan dengan hati-hati dia pakaikan pada sepasang paha jenjangnya. Dia pasangkan bagian atas stocking tersebut pada pengait garter straps yang terhubung pada bustier. Dia tak mau repot-repot dengan celana dalam.

Mila pakai kembali roknya. Kali ini dia menariknya tinggi hingga naik melewati pinggangnya, hingga ujungnya hanya sampai di atas lututnya. Merubah sebuah rok yang konservatif menjadi sebuah rok mini. Kemudian dia pakai kembali blusnya, tapi tak dia kancingkan dua buah kancing bagian atas, membiarkan belahan dadanya yang terdesak bustier terpampang indah menggoda. Sekali lagi mencari dalam tasnya, dia kelarkan sepasang stiletto heel berwarna hitam, lalu memakainya.

Dia bergerak ke depan cermin, dia lepaskan tali rambutnya, membiarkan rambutnya tergerai bebas menyentuh bahunya yang ramping. Dia rapikan rambutnya dan memberi sentuhan pada riasannya sekali lagi, kali ini riasan yang lebih ‘berat’, yang dia tahu betul dapat menonjolkan sisi ‘nakal’ dari kecantikannya.

Akhirnya, dia telah siap. Dia masukkan kembali semuanya ke dalam tasnya. Lalu memeriksa sekali lagi ke dalam cermin, dia m*****kan menuju tempat Bimo.

*****

Bimo benar-benar menikmati waktunya bersama Mila, mereguk setiap tetes kenikmatan yang diberikan tubuh Mila. Keduanya rebah berdampingan di atas ranjang Bimo, sama-sama masih berpakaian lengkap. Bimo membelainya, jemarinya menelusuri belahan bukit dada Mila yang terbuka, lalu membuat gerakan melingkar pada buah dadanya. Paha Bimo berada di antara paha Mila dan rok Mila tersingkap tinggi hingga atas pahanya. Bimo telusuri bagian atas stocking tersebut dan berikutnya garter starpnya, ujung jarinya bergerak dari licinnya bahan sutera tersebut hingga kulit telanjangnya yang lembut, begitu berulang-ulang.

Mila teramat birahi. Sentuhan Bimo membuatnya gila, tapi gairahnya menginginkan lebih dari hanya sekedar semua sentuhan Bimo tersebut.

Bimo lepaskan kancing blus Mila lalu menyusup ke dalamnya. Jemarinya menjelajahi gundukan di depan bustier tersebut. "Apa Aldi menyetubuhimu, malam itu, setelah kita bersama? Bagaimana rasanya, dengan maniku di dalammu? Apa rasanya nikmat?"

Kedua mata Mila terpejam saat dia nikmati belaian Bimo. "Rasanya selalu nikmat saat Aldi bercinta denganku."

Bimo menggoda Mila dengan memencet putingnya, yang sekarang telah terpampang sebagian dari balik ujung atas bustiernya. "Kamu tahu maksudku. Apa rasanya lebih hebat? Bukankah terasa lebih seru, dengan maniku di dalammu? Apa kamu tak merasa lebih nakal bercinta dengannya, sehabis kamu bersamaku? Bukankah rasanya lebih menggairahkan?"

Mila tak menjawabnya. "Aku nggak paham," katanya. Dia taruh tangannya di s*****kangan Bimo. "Itu membuatmu terangsang, kan, bahwa kamu lebih dulu di dalam tubuhku sebelum Aldi?"

Mila merasakan batang penis Bimo berkedut. "Aku rasa memang iya," dia tertawa geli. Lalu ekspresinya berubah serius. "Kenapa ini membuatmu begitu terangsang?"

"Aku sudah bilang padamu selingkuh itu menyenangkan, mendebarkan, sangat merangsang." Bimo menyeringai. "Well, jauh lebih hebat kalau kamu melakukannya dengan kekasih lelaki lain."

Mila mencibirkan bibir pada Bimo. "Kamu sangat jahat." Dia mendorongnya. "Apa bedanya Aldi dengan pacar-pacarku yang dulu? Kamu kan dulu juga melakukannya. Kenapa sekarang jadi lebih merangsang?"

Bimo menyeringai. "Jangan berlagak bodoh, kamu tahu jawabnya. Kamu belum pernah serius dengan pria lainnya. Lain ceritanya kamu dengan Aldi. Tapi daripada bersama Aldi, kamu lebih memilih di ranjangku sekarang. Kamu menyukai Aldi, bahkan cinta, tapi kamu biarkan aku menyetubuhimu. Apa kamu tidak lihat betapa hebatnya rangasangan dari ini semua?"

"Kamu gila," kata Mila. Dia hendak menjauh, tapi Aldi menariknya kembali.

"Ayolah, nggak usah bohong. Aku kenal kamu. Aku tahu isi kepala cantikmu . Mungkin kamu terlihat lugu di luar, tapi sebenarnya kamu wanita yang liar. Berselingkuh di belakang pacarmu membuatmu terangsang juga."

"Itu nggak benar," protes Mila.

Bimo membelai bustier berbahan sutera tersebut, jemarinya meluncur di gundukan dada Mila. "Mila, Aldi memberimu hadiah ini di hari Valentine, kan? Aku yakin ini jadi busana yang spesial baginya, kan? Mungkin kamu hanya memakainya di acara yang spesial saja, seperti hari jadi kalian. Apa kamu nggak merasa bersalah, sudah sembunyi-sembunyi memakainya untukku? Apa kamu nggak merasa bersalah saat aku setubuhi kamu dengan memakainya? Dan apa rasa bersalah itu nggak membuatmu terangsang? Bukankah mengasikkan, mendebarkan saat menjadi nakal dan liar?"

Mila terdiam untuk waktu yang lama. Bimo benar, dia merasa bersalah telah memakai bustier ini. Tapi dia ingat betul betapa mendebarkannya saat menyelinap dari Aldi dan berganti pakaian di pom bensin tadi. Resiko dan perasaan nakal tersebut teramat sangat membakar birahinya.

Tapi Mila belum siap untuk mengakuinya di depan Bimo. Dia tanggalkan roknya dan kemudian blus yang dia pakai, stocking dan stiletto heel nya. Dia buka resleiting celana Bimo dan dengan hati-hati mengeluarkan batang penisnya yang keras. Kemudian dia merangkak menaikinya. "Nggak usah ngomong lagi. Aku ingin kamu sekarang." Dia bimbing batang penisnya memasuki tubuhnya sendiri dan kemudian dia turunkan tubuhnya. Saat dia bergerak turun naik di batang penis Bimo, Mila menatap matanya. "Jangan main-main hari ini. Kamu harus keluarkan di luar, ok?"

Bimo menggeramkan persetujuannya. Vagina rapat milik Mila terlalu nikmat rasanya. Dia meraih buah dada Mila yang kecil dan langsung meremasnya. Lalu dia gulingkan tubuh Mila ke bawah dan melanjutkan menyetubuhinya dengan gaya missionary. Keduanya sudah berada di ambang orgasme.

"Kamu tahu di mana akan ku keluarkan, pelacur?" desis Bimo. "Akan ku semprotkan semua di bustiermu, agar setiap kali kamu memakainya untuk Aldi, jadi bekas air maniku!"

"Oh gawwwwd," Mila mengerang dan punggungnya meregang saat dia raih orgasmenya e.

"Kocok aku!" perintah Bimo begitu dia cabut batang penisnya dari dalam vagina Mila. "Semprotkan maniku ke seluruh bustiermu."

Masih dalam pergolakan orgasmenya sendiri, tangan Mila meraih di sela tubuh mereka dan dia genggamkan tangannya pada batang penis Bimo. Dia memompanya, mengarahkan kepala penisnya yang bulat ke bustier hadiah Aldi untuknya di hari Valentine. Detik berikutnya, sekujur tubuh Bimo bergetar hebat dan dia berejakulasi di seluruh bustier yang dipakai Mila.

0 komentar:

Posting Komentar