SELINGKUH PENUH RANGSANGAN BAGIAN 3


Dengan perlahan Aldi mengocok keluar masuk dalam vagina Mila. Orgasmenya sudah begitu dekat dan dia ingin menahannya selama yang dia mampu. Mila bisa merasakan kalau Aldi sudah di amabang batas. Dia kaitkan kakinya melingkari pinggang Aldi seerat mungkin dan dia hentakkan pinggulnya ke atas menyambut tiap sodokan Aldi, menginginkan batang penis Aldi agar terbenam sejauh mungkin dalam tubuhnya.

"Aku mau keluar," erang Aldi. Mila mengeratkan dekapannya ke tubuh kekasihnya. "Aku juga, aku hampir keluar," Mila tersengal, dia benamkan kepalanya di dada Aldi dan merengek, "Oh god oh god." Aldi menggeram dan dia semburkan air maninya ke dalam kondom.

Sepasang kekasih tersebut saling berdekapan untuk beberapa lamanya, hingga kemudian Aldi berusaha menarik tubuhnya, berusaha untuk berhati-hati agar kondom yang membungkus batang penisnya tidak terlepas. Seperti biasanya, Mila menggerakkan kepalanya turun menuju s*****kangan kekasihnya, dan dengan penuh kelembutan dia lepaskan kondom tersebut dari batang penis Aldi yang melemas. Dia peras air mani dari dalam kondom tersebut ke dadanya, lalu meratakannya ke sekujur buah dadanya sendiri. Kemudian dia jilati air mani yang tersisa di batang penis Aldi, berusaha untuk tak menyentuh kepala penisnya yang sensitif.

Aldi menyaksikan apa yang tengah dimainkan kekasihnya dengan seksama. Itu tak pernah gagal menyalakan birahinya. Mila memiliki wajah paling manis dan paling cantik, tapi dibalik itu dia adalah seoerang wanita yang liar di atas ranjang. Belum lagi kombinasi tubuhnya yang menggiurkan, buah dadanya yang meskipun kecil tapi mempunyai bentuk yang demikian sempurna, pantat yang kencang dan sepasang paha nan jenjang, kesemuanya itu merupakan mimpi basah dari setiap pria. Aldi suka cara pandang para pria terhadap kekasihnya tersebut setiap kali mereka kencan. Dia begitu sexy.

Kendati dia baru saja orgasme beberapa saat bers*****, Aldi merasa ereksi kembali. Dengan enggan dia menariknya menjauh. "Aku harus pergi sekarang kalau nggak mau ketinggalan pesawat."

Mila cemberut. Dia begitu merindukan kekasihnya. "Aku harap kamu nggak jadi pergi."

Aldi menciumnya. "Aku tahu. Aku akan kembali beberapa hari lagi, lebih cepat kalau meetingku cepat selesai."

"Aku harap begitu. I love you."

Aldi mencium Mila lagi. "I love you too."

*****

Mila hanya rebahan saja di atas ranjangnya selepas Aldi pergi. Dia merasakan frustrassi secara seksual. Dia mencintai Aldi, tapi hanya saja Aldi bukanlah seorang pecinta yang handal. Jarang sekali dia raih puncak kenikmatan saat mereka bercinta. Memang dia dapat rasakan kenikmatan kala mereka melakukannya, tapi tanpa getar letupan orgasme yang sanggup membuat setiap ujung jari kakinya menekuk, selalu saja dia merasa terhempas dengan perasaan tak terpuaskan serta frustrasi. Tentu saja tak pernah dia ungkapkan semuanya itu pada Aldi. Dia tak mau melukai perasaannya. Dan untung saja dia bisa menutupinya dengan sangat baik.

Dia sudah tak berhubungan dengan Bimo sejak Bimo menikah, beberapa bulan yang lalu. Tapi bukannya Bimo tak mencobanya. Bimo terus menelponnya setiap waktu. Bahkan Bimo ingin melakukannya di malam sehari sebelum dia menikah dan waktu pesta resepsi pernikahannya, Bimo berhasil membuat Mila berada di sebuah kamar kosong hanya berdua saja dengannya dan memncumbu Mila dengan jari-jarinya. Sebenarnya tiada hentinya Bimo memohon pada Mila untuk memberinya quick blow job, tapi Mila berhasil kabur keluar dari kamar tersebut.

Itu sudah tak benar lagi, sudah melenceng jauh. Ya, selingkuh memang mengasikkan. Tapi Bimo sudah menikah sekarang dan hubungannya dengan Aldi sudah semakin bertambah serius. Sebelumnya perselingkuhan mereka tak lebih hanya sebuah permainan seks yang nakal saja dan Mila mau melakukannya karena mereka belum punya ikatan yang serius. Semuanya sudah lain sekarang.

Namun tubuhnya mendambakan tubuh Bimo. Birahinya melebihi semua rasa mendebarkan dari berselingkuh. Bimo memang seorang pecinta yang lihai. Dia tahu betul semua titik sensitif tubuh Mila dan sangat tahu cara menyentuhnya. Dan batang penisnya sungguh menakjubkan. Dia teringat sewaktu di bangku kuliah, semua temannya berkata kalau ukuran tidaklah penting. Dia selalu setuju, karena itu sudah jadi pakem yang ada di lingkungannya dan dia tak begitu tahu apa memang ada yang ebih baik dari itu semua. Setelah lulus dia mulai aktif secara seksual dan dengan cepat menyadari kalau ukuran memang berpengaruh, setidaknya bagi dirinya sendiri. Lelaki yang memiliki tubuh bagus lebih menggairahkan. Penis berukuran besar lebih nikmat dibandingkan yang berukuran kecil. Penis berukuran besar lebih menggairahkan untuk dilihat, lebih merangsang untuk disentuh dan terasa lebih nikmat saat berada di dalam tubuhnya.

Aldi seorang pecinta yang penuh perhatian, tapi dia tak handal di atas ranjang. Mila merasa bersalah memikirkannya, tapi dia tak mampu mengingkari kenyataannya. Dhia sudah berusaha mengajarinya apa yang dia senangi dalam seks, tapi itu tak sanggup membantu. Bahkan saat Aldi melakukan tepat seperti yang diminta Mila, itu tak terasa semenyenangkannya saat melakukanya dengan Bimo, ataupun saat dengan pria lain yang pernah bersamanya. Bimo mempunyai tubuh yang kekar dan tinggi besar. Aldi tidak. Dan Bimo tahu apa yang diharapkan Mila. Bimo tahu kalau Mila suka sedikit dilecehkan, Mila suka diperlakukan layaknya seorang pelacur binal.

Aldi takkan mungkin memperlakukannya seperti itu. Dia terlalu baik dan perhatian. Mila mencintai Aldi dan merasakan kebahagiaan lebih dari yang pernah dia rasa sepanjang hidupnya. Tapi jika Aldi melamarnya, apa dia akan mengatakan iya? Seks bukanlah segalanya, tapi Mila takkan sanggup menjalani hidupnya selalu merasakan tak terpuaskan.

Mila butuh sebuah pelepasan. Dia gerakkan tangannya turun menuju kelentitnya dan mulai menggesek. Dia pejamkan matanya dan dengan diiringi perasaan bersalah dia berkhayal tentang Bimo. Dengan tangan yang satunya, dia remas buah dadanya. Dia membayangkan Bimo menyutubuhinya dengan penis besarnya. Namun rasa bersalahnya semakin bertambah besar melebihi birahinya. Dia rubah fantasinya pada seorang pria yang mencoba mendekatinya di malam sebelumnya. Dia dan Aldi tengah singgah di sebuah bar untuk minum dan saat Aldi pergi ke kamar kecil, pria itu mendekatinya. Dia perkenalkan namanya, Gery. Mila coba acuhkan usaha pria tersebut, tapi itu sebelum dia amati Gery memiliki bahu yang bidang dan wajah yang jantan. Saat Gery m*****kah pergi, dia berhasil meremas pantat Mila sekilas dan juga memepetkan tubuhnya, membuat Mila merasakan miliknya yang keras dan besar. Mila bayangkan Gery memaksanya ke sebuah pojok ruangan di bar tersebut yang gelap dan mulai mencumbunya. Mila semakin merasa birahinya menggelegak nakal, dia tambahkan Aldi ke dalam fantasinya. Aldi sedang mengerjai anusnya, sedangkan Gery menggasak vaginanya. Tidak, itu tak mungkin terjadi, batin Mila. Lalu dia rubah fantasinya menjadi, Gery menggoyang vaginyanya dan Aldi menjilati kelentitnya. Ya, itu lebih nyata, pikirnya dan jemarinyapun bergerak semakin cepat pada kelentitnya sendiri.

Sejenak berikutnya Mila raih orgasmenya. Tapi biarpun itu memberikannya sebuah kenikmatan, dia masih merasakan tak terpuaskan. Mila menutup wajah dengan kedua tangannya. Dia merasa begitu frustrasi, dia merasa ingin menangis.

Terdengar bunyi telpon berdering. Mila menjawabnya, mengira itu dari Aldi. Tapi ternyata itu Bimo.

"Hanya ingin tahu gimana kabarmu," Bimo memulai. "Sarah sedang pergi ke rumah orang tuanya akhir pekan ini. Aldi mana?"

Mila tahu alasan Bimo menelponnya. Untuk beberapa bulan belakangna dia masih mampu menolaknya, tapi dia teramat sangat membutuhkannya. Dia tak ingin berselingkuh lagi. Dia tak mau menghianati Aldi. Tapi hasratnya tak kunjung reda. Dengan perasaan benci yang begitu besar pada dirinya sendiri, dia berkata, "Di mana kita bisa ketemu?"

*****

Aldi naik ke pesawatnya. Dia merasakan begitu banyak emosi yang berkecamuk dalam dadanya.

Dia merasa curiga bahwa Mila punya affair dengan Bimo cukup lama. Saat mereka kira dia tak melihat, kadang dia saksikan Bimo menyentuh Mila dengan begitu intim. Belaian singkat di paha atau pantatnya, kadang sebuah senyuman penuh makna yang berlanjut dengan remasan pelan di buah dada Mila. Mila selalu mendorong Bimo menjauh, tapi dia tak pernah marah dan tak pernah mengatakan semua itu padanya.

Aldi mulai memperhatikan semua itu. Kadang, saat Mila pulang kerja, dia bisa mencium bau parfum Bimo di rambut Mila. Kadang sepulang dia pergi belanja atau nonton film dengan Bimo, dia temukan stockingnya di tempat sampah, ada bekas bercak-bercak.

Sangat mudah baginya untuk menyewa seorang detektif pribadi untuk menyelidiki Mila. Memang mahal biayanya, Tapi dia punya uang lebih di tabungan pribadinya. Dia merasa tak enak sudah menyuruh orang untuk membuntuti Mila, tapi dia harus tahu kebenarannya.

*****

Aldi mengamati foto-foto di tangannya. Semuanya dengan kualitas tinggi dan semuanya membuktikan kecurigaan Aldi.

Masih memandangi fot-foto tersebut, Aldi bertanya, "Dan kamu juga punya videonya?"

Sang detektif sewaan menunjuk pada sebuah amplop yang diletakkan di atas meja Aldi. "Ya, aku punya. Mereka pergi ke sebuah hotel, tapi gordennya sedikit terbuka. DVDnya ada di dalam amplop bersama beberapa foto lagi."

Aldi memberikan setumpuk uang pada sang detektif. "Ini seperti yang kujanjikan. Akan kuurus sendiri dari sini."

Setelah sang detektif pergi, Aldi mengunci pintu kantornya. "Lisa, tahan semua telpon untukku," ucapnya ke sebuah intercom. Dia buka amplop tersebut, dia singkirkan foto-fotonya dan menghubungkan DVD ke televisi.

Video itu dibuka dengan adegan Mila berdiri di depan Bimo, yang sedang duduk di pinggiran ranjang. Blus yang dipakainya terbuka dan Bimo tengah asik mencumbui buah dadanya. Aldi bisa menyaksikan kalau Mila memakai salah satu bra berenda miliknya. Bimo meremasi buah dadanya dan menghisap kelentitnya yang terbuka. Aldi menyaksikan saat tangan Bimo bergerak dari buah dada Mila menuju ke pantatnya dan masuk ke dalam roknya. Tangan Bimo bergerak di dalam rok Mila menuju pantatnya, menyingkapkan naik roknya melewati paha. Aldi menyaksikan Mila mengenakan garter belt berenda dan sebuah thigh high stocking berwarna hitam. Bimo meremasi bongkahan pantat Mila yang kencang. Dia sama sekali tak memakai celana dalam. Kemudian Bimo mengarahkan tangannya menuju vagina Mila. Aldi saksikan saat Bimo mulai memasukkan satu jari dan disusul dua jari ke dalam vagina Mila. Jeari-jari Bimo terlihat mengkilat oleh cairan, tampak nyata bahwa Mila sudah basah kuyup. Saat jari-jari Bimo menyetubuhinya, ibu jari Bimo tiada henti menggesek kelentit Mila.

Kedua mata Mila terpejam dan kepalanya terayun dari sisi ke sisi. Dia tenggelam dalam birahinya dan kedua kakinya yang memaki high heel terlihat mulai goyah. Jika saja tangan Bimo tak menahan pantatnya, mungkin Mila akan jatuh tersungkur.

Mila terlihat mengucapkan sesuatu, begitu pelannya hingga sulit bagi Aldi untuk dapat mendengarnya. "Fuck me, fuck me," ucap Mila berulang-ulang.

Bimo menarik tangannya menjauhi vagina Mila dan dia turunkan resleiting celananya, lalu menurunkannya hingga mata kaki. Dia pegangi batang penisnya dalam genggaman tangan.

Aldi tak bisa mempercayai ukuran penis milik Bimo. Bukan saja panjangnya, tapi juga besarnya. Aldi kira penis berukuran seperti itu hanya ada dalam film-film biru saja.

"Ini yang kamu inginkan?" tanya Bimo, mendesaknya.

Mila menunduk. "God, yes," desahnya. "Aku sangat menginginkannya." Tangannya meraih dan mulai mengocoknya.

Tangan Mila menggapai ke belakang dan dia buka pengait roknya, membiarkannya jatuh ke atas lantai. Dia dorong tubuh Bimo ke atas ranjang dan mulai menaikinya. Tangannya menggapai ke bawah dan membimbing Bimo ke belahan vaginanya. Bimo terus menggoda Mila. "Kamu sangat ingin ini, kan?"

Mila mendorong ujung kepala penis besar tersebut membelah tubuhnya. "Oh god yes," dia mengerang. Dia pejamkan matanya rapat saat dia turunkan tubuhnya ke Bimo. "Aku sangat butuh ini."

"Aldi nggak mampu memuaskanmu, benar kan?"

Dengan berusaha susah payah untuk memasukkan batang penis Bimo lebih jauh lagi ke dalam tubuhnya, dengan tersengal Mila berusaha menjawab diantara nafasnya yang berat, "Dia – nggak punya – sesuatu – yang cukup – untuk diberikan padaku."

Terlihat memakan waktu yang cukup lama bagi Mila untuk memasukkan seluruh batang penis Bimo ke dalam tubuhnya. Lalu mulailah dia menggerakkan tubuhnya naik turun dengan pelan. Gerak persetubuhan mereka semakin meningkat cepat dan tak lama kemudian semakin bertambah cepat saja. Setiap kali Mila menekan ke bawah, Bimo dengan penuh tenaga mendorong ke atas menyambutnya tanpa ampun, membuat Mila terpekik setiap kalinya. Mila menarik tubuhnya hingga hanya tinggal kepala penis Bimo saja yang terjepit vaginanya, lalu dia hempaskan turun dengan keras lagi.

Desah lenguhan Mila terdengar tanpa henti dan wajahnya menggambarkan ekspresi kenikmatan yang seutuhnya. Belum pernah Aldi melihat kekasihnya seperti ini. Kelihatannya belum pernah sekalipun dia memberikan kenikmatan seperti ini padanya.

Mila menarik tangan Bimo ke dadanya, tapi blus dan bra yang masih dia kenakan menghalangi. Dengan cekatan dia lucuti semua kancing blusnya dan menjatuhkannya ke atas lantai. Branya menyusul berikutnya dan sekali lagi dia bawa tangan Bimo ke dadanya. "Pilin putingku!" pintanya. Bimo lakukan yang dia minta. Kala Bimo terus memainkan puting buah dada Mila, Bimo saksikan kekasihnya membelai dada bidang dan lengan kekar milik Bimo. Kemudian Mila tepiskan lengan Bimo ke samping dan dia menunduk untuk mencium Bimo. Dapat Bimo lihat dari tonjolan di pipi mereka, kalau keduanya tengah saling menjelajahi mulut masing-masing.

Mila lepaskan ciumannya dan merintih, "Aku hampir keluar!" Aldi saksikan wajah Mila diselimuti kenikmatan seluruhnya saat gelombang orgasme menguasai sekujur tubuhnya. Saat di puncaknya, punggung Mila meregang ke belakang dan kuku-kuku jarinya menancap erat di dada Bimo. Bimo biarkan Mila rehat beberapa saat, lalu dia balikkan tubuh Mila hingga sekarang berada di bawah tindihan tubuhnya.

Aldi saksikan Bimo tiada henti menyetubuhi Mila dalam 15 menit berikutnya. Terlihat Mila mendekati orgasme berikutnya. Gerakan Bimo semakin cepat dan tak beraturan, dia menggeram keras, "Aku akan keluarkan di dalam!" Tepat saat Bimo mengucapkan itu, orgasme Mila meledak, dia kaitkan kakinya melingkari pinggang Bimo, menariknya lebih jauh ke dalam tubuhnya.

Bimo menggeram sekali lagi dan Aldi tahu kalau dia sedang berejakulasi di dalam rahim kekasihnya. Setiap kali dia memompa diiringi oleh geram jeritannya. Mila mulai terdengar meraungkan rintihannya saat wajahnya diselimuti aura kenikmatan sekali lagi, menggambarkan ledakan orgasme yang dia raih sekali lagi.

Tubuh keduanya saling bertindihan untuk beberapa menit kemudian, hingga Mila mendorong tubuh Bimo menyingkir dari atas tubuhnya. Dengan enggan Bimo mencabut batang penisnya dan berguling ke samping. Mila memeluk bantal dan mulai terisak.

Bimo coba merengkuh bahunya, namun Mila menepisnya. Masih tetap menangis, dia berlari menuju kamar mandi. 10 menit berikutnya Aldi dengarkan suara air shower. Saat Mila muncul, dia terlihat begitu segar setelah mandi dengan sebuah handuk membalut tubuhnya. Matanya masih terlihat merah sehabis menangis.

Dia duduk di pinggir ranjang, wajahnya dia tutupi dengan kedua tangannay dan mulai menangis. "Aku harus hentikan ini semua," isaknya. "Aku mencintai Aldi. Aku nggak mau menghianatinya lagi."

Bimo terlihat tak bergeming oleh kesedihan Mila. Dia tetap rebah di ranjang dan mulai menyalakn sebatang rokok. Batang penisnya kini melemas, tapi masih saja terlihat begitu besar di s*****kangannya. "Mila, biar bagaimanapun kamu harus menerimanya. Aldi nggak akan pernah bisa memberikan apa yang kamu mau."

Mila menoleh ke arah Bimo dengan menantang. "Aku mencintainya!" tekannya.

Bimo memegang batang penisnya sendiri dan mulai mengocoknya. Batang penisnya meuali mengeras kembali. "Ini yang kamu inginkan, Mila. Hal ini tak akan pernah berubah denganmu. Aku nggak bilang kalau harus denganku. Tapi aku sangat mengenalmu. Kamu butuh penis besar dengan teratur. Kamu sangat menginginkannya. Kamu nggak akan bisa bahagia dengan Aldi si penis kecil."

Mata Mila berkilat marah. "Diam, bajingan! Jangan memanggilnya begitu!" Mila biarkan handuk yang melilit tubuhnya jatuh ke lantai dan mulai memakai rok dan blusnya, lalu memasukkan lingerienya ke dalam tas kecilnya. Sambil memakai high heelnya, dia berucap, "Dan nggak perlu repot menelponku. Nilai lebih dari persahabatan kita ini sudah berakhir. Dan persahabatan kita yang sesungguhnya akan benar-benar berakhir kalau kamu coba ucapkan sesuatu yang seperti itu lagi."

Bimo tertawa dan mendekati Mila. "Ayolah, kamu tahu kalau aku hanya bercanda. Aku suka Aldi. Aku hanya ingin kamu bahagia." Dia bergerak ke belakang Mila dan menekankan batang penisnya yang keras ke pantat Mila. "Aku tahu kalau kamu nggak akan bisa bahagi dengan Aldi. Aku nggak ada persoalan pribadi dengan Aldi. Seperti yang aku bilang, aku suka Aldi. Hanya saja dia nggak punya barang seperti." Bimo menciumi leher Mila dan merangkulkan tangannya melingkari tubuh Mila, lalu dia tangkap buah dadanya. Dia susupkan tangannya memasuki blus Mila dan memilin putingnya yang langsung saja mengeras. "Kamu nggak akan bahagia bersama Aldi. Dia nggak tahu bagaimana cara menyentuhmu, seperti yang kulakukan."

Mila coba melepaskan diri. "Nggak, Bimo, hubungan kita sudah selesai."

"Kamu nggak serius." Bimo menggapai ke bawah dan menaikkan ujung rok Mila. Dia jepitkan penisnya di antara paha Mila yang panjang dan indah. "Kamu menginginkan ini." Mila membuka pahanya secara naluriah dan dia tercekat saat ujung kepala penis Bimo menyentuh bibir vaginanya. "Kamu butuh ini."

Mila ingin pergi, tapi tubuhnya sendiri menghianatinya. Terlalu banyak malam yang penuh dengan ras frustrasi dan seks yang tak memuaskan bersama Aldi. Birahinya yang membuncah membuatnya mendidih dan seks sebelumnya tadi dengan Aldi belum mampu meredakan itu semua. Berkebalikan dengan rasa jengkelnya terhadap Bimo, dia rasakan tubuhnya merespon Bimo.

Aldi saksikan Mila melemparkan kepalanya ke belakang dan Bimo mendorong lidahnya memasuki mulut Mila yang menunggu. Bimo berhasil melucuti semua kancing blus Mila dan langsung memainkan buah dada beserta putingnya. Mila menggapai ke bawah dan coba membimbng batang penis Bimo untuk memasukinya. Tapi keduanya kehilangan keseimbangan dan terjerembab ke atas kasur. Kemudian Bimo mulai memasukinya dari belakang, langsung menguburkan seluruh batang penisnya dalam sekali dorongan. Untuk 20 menit berikutnya, Bimo menyetubuhi Mila dengan bermacam variasi posisi, memberi Mila dua kali ledakan orgasme lagi. Mila tak melawan saat Bimo keluarkan air maninya di dalam vaginanya lagi.

Aldi hentikan DVD tersebut. Begitu banyak konflik emosional yang berkecamuk dalam kepalanya. Tapi ada sesuatu yang harus dia lakukan, segera. Dia putar ulang video tersebut dan menyalakannya lagi di saat bagian di mana Bimo berkata, " Aldi nggak mampu memuaskanmu, benar kan?"

Kemudian Aldi keluarkan batang penisnya yang sudah demikian keras dan mulai mengocok penisnya sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar