SELINGKUH PENUH RANGSANGAN BAGIAN 6
Mila melihat sekelilingnya dengan grogi dan dengan cepat m*****kah masuk ke dalam toko tersebut. Dia tak mau terlihat oleh seseorang yang mengenalnya. Dengan malu-malu dia amati barang yang terpajang, hingga akhirnya dia temukan apa yang dicarinya. Dia m*****kah ke bagian belakang sex store tersebut dan mengamati semua ragam dildo yang dijual.
Harus dia temukan solusi untuk masalahnya. Dia ingin untuk tetap setia pada Aldi. Dia mulai membenci Bimo yang telah bersikap begitu memuakkan dan memperlakukannya seakan hanyalah sex toynya belaka. Mungkin dia memang pantas mendapatkannya, tapi dia mantapkan hati untuk tak akan menemui Bimo lagi.
Namun tubuhnya tak bisa memungkiri. Aldi memang bisa memberinya segalanya selain kebutuhan seksualnya. Bukan hanya masalah ukuran belaka. Aldi bukanlah seorang pecinta yang pintar dan Mila sudah merasa pasrah dengan apa yang bisa Aldi berikan.
Mila membutuhkan kepuasan, terpuaskan oleh batang yang besar dengan keras dan kasar. Dia putuskan untuk membeli sebuah dildo. Dia belum pernah punya sebelumnya, tapi dalam kondisi seperti ini, dia sudah terbuka dengan segalanya.
Dengan cepat Mila temukan yang dia mau. Keduanya berukuran besar serta panjang. Yang satu berwarna putih dan satunya lagi berwarna hitam. Belum pernah dia tidur dengan pria kulit hitam, tapi dia sudah dengar dengan semua gosip tentang itu.
"Aku rekomendasikan yang hitam," ucap sebuah suara dari belakangnya. Mila sangat terkejut dan hampir saja dia terlonjak. "Maaf, aku nggak bermaksud mengejutkanmu." Mila menoleh dan melihat seorang pria paruh baya. Pria ini adalah penjaga toko yang Mila lihat saat dia masuk ke dalam toko ini tadi. Tubuhnya gemuk dan rambutnya dihiasi sedikit uban serta wajahnya terlihat rusak oleh bekas jerawat.
"Wanita berkulit putih, apalagi bertubuh kecil sepertimu, banyak yang suka itu. Itu fantasi yang populer. Interacial?"
Mila tak bisa percayai kelancangan pria ini. Ingin dia segera terbang keluar dari toko tersebut...
"Dan pria hitam biasanya memang banyak yang punya ukuran sebesar itu," lanjut sang pria, menjunjuk ke arah dildo hitam yang berukuran besar. "Tentu saja, punyaku nggak terlalu jauh juga."
Oh my god, apa pria tua menjijikkan ini sedang berusaha merayuku? Sebelum Mila menjawab, si pria kembali berkata, "Kamu tahu, kami baru saja dikirimi sebuah film baru. Mutunya bagus. Aku bisa memutarnya, kalau kamu ingin lihat."
"Oh, nggak, nggak usah. Aku harus pergi. Aku Cuma beli ini saja." Mila mengambil dompetnya, tapi segera saja dia tersadar dalam kegugupannya tadi, dompetnya tertinggal di dalam mobil. "Oh, sial, dompetku ketinggalan."
"Nggak masalah," dengan cepat si pria menjawab, sebuah seringai terkembang di wajahnya. Tangannya terjulur dan memegangi bahu Mila. "Itu bisa di atur." Mila tercekat mendapati pria tersebut begitu berani menyentuhnya. Apa dia coba menawarku? Sikap diam Mila diartikan si pria sebagai persetujuan untuk menyentuhnya. Tangannya bergerak menelusuri punggung Mila hingga pada pantatnya. Dia meremasnya.
Mila bergerak menjauh. "Jangan menyentuhku."
"Kamu boleh ambil dildonya," lanjut si pria. "Cuma angkat rokmu biar aku bisa lihat apa m*m*kmu botak nggak."
"Gila kamu, aku keluar."
Mila berbalik untuk pergi tapi si pria mencengkeram tangannya. Dia tunjuk dada Mila. "Ayolah, aku tahu kamu mau."
Mila terhenyak saat dia menunduk. Putingnya sudah mengeras dan mencuat ke depan dari balik bra dan blousenya. Tiba-tiba dia tersadar kalau dia telah terangsang. Oh my god, pria menjijikkan ini membuatku terangsang. Sekali lagi, si pria menganggap sikap diam Mila sebagi tanda setuju untuk disentuh. Dia bergerak mendekat dan menekan s*****kannya ke paha Mila. Si pria sudah ereksi. "Kamu yang menyebabkan ini." Si pria semakin menekan keras. "Sudah kubilang k*nt*lku besar. Kamu suka yang besar, kan?" Si pria gendut meremas pantat Mila. "Wah, pantatmu sangat kencang." Tangan si pria yang satunya lagi menangkup buah dada Mila. Cuma meremasnya dari luar pakaian Mila tidaklah cukup bagi si pria, lalu dengan lihai dia lepas kancing blous Mila dan melepas kaitan branya dan langsung meremasi buah dada Mila yang telanjang.
Tangan si pria yang menyentuh dada telanjangnya menyentakkan Mila dari alam bawah sadarnya dan langsung dia dorong si pria menjauh. Dia lari keluar dari toko tersebut. Dia langsung masuk ke dalam mobilnya dan melaju secepat yang dia bisa. Setelah beberapa mil barulah bisa dia atur nafasnya yang memburu. Dia betulkan kembali pengait branya dan mengancingkan kembali blousnya, kemudian dia pandangi dirinya di kaca spion depan. Aku sudah berubah jadi apa? Apakan di dahiku ada tulisan ‘aku horny’?
Vaginanya berdenyut dan putingnya masih tetap keras. Meskipun merasa malu, dia menyadari bahwa si pria tua gendut tadi telah membuatnya terangsang. Oh god, aku sungguh ingin dipuaskan. Dia lihat sekelilingnya. Tak ada seorangpun. Dia buka kancing jeansnya dan tangannya menyusup masuk ke dalam. Dia pejamkan mata dan berhayal si pria gendut yang jelek tadi menyetubuhinya dengan penis besarnya.
0 komentar:
Posting Komentar