SELINGKUH PENUH RANGSANGAN BAGIAN 11
Beberapa hari kemudian...
Aldi berusaha secepatnya untuk selesaikan emailnya. Dia menyesal harus bekerja di bulan madunya, tapi kantornya tengah berusaha untuk menggoalkan sebuah proyek besar, dan dia harus selalu tahu perkembangannya setiap saat.
Dia pandang keluar jendela. Mila, pengantin barunya, sedang menunggunya di pantai. Dia terlihat memukau dengan bikini string barunya. Usia kandungannya baru sebulan lebih dan belum terlihat di tubuhnya.
Dia saksikan Mila sedang bicara dengan seorang pria yang memakai celana renang speedo. Dia tak bisa percaya ada pria yang mau pakai celana renang model begitu. Ukurannya bahkan lebih minim dibanding bikini wanita.
Pria itu membantu Mila mengambil snorkel dan kaca mata selam. Aldi baru sadari kalau pria itu tentunya guide wisata snorkeling mereka. Aldi saksikan pria itu tertawa dan mengobrol dengan Mila saat dia membantunya membetulkan kaca mata selamnya. Terlihat jelas kalau pria itu tengah menggoda isteri barunya. Aldi meraih teropongnya, yang sebenarnya disediakan resort ini untuk melihat burung-burung.
Pria itu seumuran mereka dan berpostur tinggi serta berkulit gelap, yang pastinya karena sering berada di bawah sengatan matahari saat jadi guide untuk para pelancong. Wajahnya khas pria lokal, karena memang sekarang mereka sedang berbulan madu di pulau indah ini. Tubuhnya tegap berotot, berdada bidang, perut six pack dan lengan serta pahanya tampak begitu kuat. Wajahnya sangat berkesan jalanan dengan senyuman yang berhiaskan deretan gigi putih.
Tapi apa yang menarik perhatian mata Aldi adalah s*****kangan si pria dan tonjolan besar di depan celana renangnya. Terlihat sangat besar dan kelihatannya pria itu suka memperlihatkan yang dipunyainya. Saat Mila duduk di bangku dan mencoba flippernya, pria itu berdiri di hadapannya, s*****kangannya begitu dekat dengan wajah Mila. Aldi tambahkan zoom teropongnya. Celana renang pria itu sangatlah ketat hingga begitu jelas memperlihatkan bentuk kejantanan di s*****kangannya. Aldi fokus pada wajah Mila. Wajahnya terlihat sedikit merona. Lalu dia fokus pada bikini atas Mila. Putingnya terlihat menonjol jelas di balik kain bikini atasnya.
Aldi buka resleiting celananya dan keluarkan penisnya. Dia genggam batang penisnya. Dengan mudah dia genggam seluruh batangya, dari pangkal hingga kepala. Bahkan Mila bisa melakukan hal yang sama, meskipun genggaman tangannya lebih kecil lagi.
Apa yang disaksikannya di pantai membuatnya terangsang. Bukan hal yang mengejutkan kalau Mila didekati pria. Kecantikan dan kemolekan tubuhnya terlalu sayang untuk dilewatkan pria manapun. Yang membuatnya terkejut, ternyata itu juga membuatnya begitu terangsang, perasaan cemburu menyaksikan Mila memberi respon pada pria yang coba mendekatinya, ternyata membuatnya sesak nafas dan kepalanya serasa berputar oleh deraan birahi.
Saat dia bermasturbasi, dia teringat pesta resepsi pernikahan mereka. Ditengah berlangsungnya pesta, dia terkejut saat mendapati bekas sedikit cacat pada stocking Mila. Cacat itu pada lututnya, model cacat yang hanya bisa didapat saat berlutut lama, berlutut lama jika memberikan sebuah blowjob. Sesudahnya, saat dia menanyakan, Mila bilang pasti itu didapat saat dia berdandan. Tapi Aldi menyangsikannya. Dia juga menemukan sebuah bercak pada bustier Mila. Dia tak begitu yakin, tapi noda tersebut tercium seperti noda sperma. Apa Mila memberikan blowjob pada Bimo, di hari pernikahan mereka, mungkin saat Mila sedang berdandan? Mungkin sebagian spermanya tersembur mengenai bustiernya? Aldi mengerang dan berejakulasi dalam genggamannya saat dia bayangkan Mila mengenakan busana pengantinnya, berlutut di hadapan Bimo, dengan batang penis Bimo yang besar di dalam mulutnya.
Dengan cepat Aldi bersihkan dirinya dengan tisu. Lalu dia pakai pakaian renangnya dan bergegas menuju pantai.
Pria itu memperkenalkan diri, namanya Dende. "Anda bisa dapatkan kaca mata, snorkel dan flipper dari locker di sana," ucapnya pada Aldi dengan nada yang terdengar acuh. Saat Aldi berjalan menuju locker, Dende melanjutkan kesibukannya pada perlengkapan Mila, tertawa dan menggodanya seperti yang dia lakukan sebelum kedatangan Aldi.
"Dende, locker ini dikunci," kata Aldi saat mencoba buka pintunya.
"Nggak, pintunya memang sedikit berat," jawab Dende, sambil mendekat. Dengan begitu gampang dia buka pintu tersebut dengan satu tangan, otot lengannya terlihat mengeras. Dengan seringai di wajahnya, dia pukul dada Aldi dengan bercanda. "Anda butuh olah raga, bung." Dia remas otot bisep Aldi yang lembut saat dia mengedip pada Mila. "Ganti lemak ini dengan otot. Lagian, anda punya isteri seksi yang harus dibahagiakan."
Dende tertawakan guyonannya, tapi Aldi terbakar dalam hatinya. Dadanya yang dipukul Dende tadi terasa sakit, tapi dia tak mau mengusapnya. "Dasar brengsek," gerutu Aldi saat dia duduk di samping Mila untuk mencoba flippernya.
"Ah, dia kan cuma bercanda," kata Mila sambil meremas lengan Aldi. Dia meremasnya, seperti yang dilakukan Dende tadi. "Kurasa tubuhmu ini sudah sempurna."
Mereka masuk ke air untuk memasang peralatannya. Saat Aldi sedang sibuk berusaha memasang flipper dengan gelombang ombak yang menghantamnya, dia dapati dirinya terpisah dengan Mila dan Dende sekarang. Aldi menoleh ke arah mereka. Dende yang membantu Mila memasang perlatannya, membuat posisi Dende merapat pada Mila. Mereka nyaris bersentuhan saat Dende membetulkan tali kaca mata selam Mila. Meskipun dia tak bisa melihat, sebab dari pinggang ke bawah mereka berada dalam air, Aldi menerka mungkin Dende menekankan tonjolan s*****kangannya pada isterinya. Aldi merasa batang penisnya berdesir membayangkan hal itu.
Saat mereka menyelam di terumbu karang, Dende hanya memberikan seluruh perhatiannya pada Mila, saat menunjukkan indahnya kehidupan bawah laut. Dende dan Mila adalah perenang dan penyelam yang berfisik lebih kuat dibandingkan Aldi. Awalnya, mereka bertiga masih beriringan, seringnya Mila menunggu agar Aldi dapat menyusul. Namun seiring berjalannya tur tersebut dan pemandangannya bertambah menarik, mereka mulai terpisah. Mila dan Dende terus pergi untuk mendapatkan pemandangan bawah laut yang lebih bagus dan Aldi berjuang untuk dapat menyusul mereka.
Di perairan yang jernih, Aldi bisa melihat keduanya. Terkadang, Dende akan memegang pinggang Mila untuk memberinya tanda, terkadang hingga dekat pantat Mila. Terkadang saat mereka berhenti untuk melihat sesuatu, paha mereka akan saling bersentuhan. Terkadang tiba-tiba saja Dende berputar dan membuat tubuhnya menempel rapat pada tubuh Mila, dada kekarnya menekan buah dada Mila, batang keras di s*****kangannya menggesek paha Mila.
Satu jam kemudian mereka kembali ke permukaan. Setelah menaruh semua peralatan ke dalam locker, mereka duduk santai di kursi pantai. Wajah Mila terlihat merona merah.
Mata Aldi melirik buah dada isterinya. Putingya terlihat keras dan membekas jelas pada bikini atasnya. Apa Dende telah membuatnya terangsang?
"So, apa rencana kalian berikutnya?" tanya Dende.
"Oh, belum tahu," jawab Aldi. "Kami belum punya rencana. Mungkin hanya santai-santai saja di pinggir kolam, lalu cari makan malam."
"Restoran terbaik di sini adalah Baja Salsa," ucap Dende meyakinkan. "Nggak terlalu dipublikasikan, jadi nggak banyak turis yang tahu dan makanannya lezat. Di sana selalu ada live band dan dansa."
"Kedengarannya menarik. Gimana menurutmu, honey?"
Mila mengangkat bahu, tak melihat ke arah Aldi maupun Dende. Dia terlihat bingung. "Nggak tahu. Aku sedang memikirkan sesuatu yang lebih tenang, mungkin cuma room service saja." Lalu dia berdiri. "Ayo, honey, kita balik ke hotel."
"Baiklah," jawab Aldi, agak terkejut dengan kekasaran isterinya. Baru saja dia akan berdiri saat dia melirik ke bikini bawah Mila, yang ada di depan matanya. Hampir saja Aldi menjerit, karena pada kain tipis tersebut tercetak sebuah camel toe. Tak diragukan lagi, isterinya telah terangsang oleh Dende.
Begitu Mila m*****kah menuju ke hotel, Aldi melirik ke arah Dende, yang tersenyum padanya dengan pongah. Jelas sudah kalau Dende juga melihat camel toe Mila. Dende berpaling untuk menatap Mila yang berjalan menjuh, matanya menatap tajam dari pantat ke paha jenjang Mila, sama sekali tak peduli untuk menyembunyikan dari Aldi, akan rasa tertariknya terhadap pengantin barunya.
Jantung Aldi berdebar kencang. Saat dia berjalan menyusul Mila, dia betulkan celana renangnya agar ereksinya tak terlihat.
*****
Beberapa jam kemudian, Aldi pergi ke resepsionis saat Mila berdandan. "Aku dan isteriku berencana untuk pergi ke Baja Salsa malam ini. Gimana menurutmu tempat itu?"
Sang resepsionis, seorang pria paruh baya, menatap Aldi dengan khawatir. "Tuan, anda dan isteri anda sedang bulan madu, kan?"
"Benar. Dende, instruktur diving kami, merekomendasikan tempat itu pada kami."
Sang resepsionis tampak semakin khawatir. Dia lihat sekeliling untuk memastikan tak ada seorangpun yang mendengar. "Tolong jangan katakan pada siapapun kalau saya katakan ini," bisiknya. "Dende teman dekat pemiliknya dan dia bisa membuatku di pecat. Tapi Baja Salsa itu tempat untuk orang yang masih single, bukan orang yang sudah menikah seperti anda. Tempatnya sangat liar... gimana bilangnya ya? Sebuah tempat ‘pasar daging’. Dan Dende,... dengarkan saranku, tuan, jaga isteri anda jangan dekat-dekat dengan Dende. Dia suka... dia suka dengan isteri orang, wanita yang sudah bersuami, anda paham maksud saya, kan?"
Aldi mengangguk pelan dan memberi uang tips pada sang resepsionis. Dengan pelan dia berjalan balik ke kamarnya, jantungnya berdebar kencang. Begitu dia buka pintu kamar, dia dapati Mila sedang memberi sentuhan akhir pada rambut dan makeupnya. "Aku baru saja ngobrol dengan resepsionis," ucapnya, puluhan kupu-kupu terbang di dalam perutnya. "Dia juga suka Baja Salsa, dia sangat merekomendasikannya."
0 komentar:
Posting Komentar